BERAU – Sejarah seringkali mencatat kemenangan dalam gemuruh mesiu, namun dalam film kolosal terbaru bertajuk “Raja Alam”, sutradara Yayan memilih untuk memotret sisi lain dari perjuangan: keteguhan di balik jeruji pengasingan.

Sultan Alimuddin, penguasa pertama Kesultanan Sambaliung yang memimpin pada 1810-1843, kini tidak hanya dikenal melalui buku sejarah.
Kisahnya akan dihidupkan kembali lewat layar lebar, menyoroti salah satu fragmen paling emosional dalam hidupnya—saat ia dipisahkan paksa dari rakyatnya dan dibuang ke Makassar, Sulawesi Selatan.
Makassar: Saksi Bisu Keteguhan Sang Sultan
Keputusan tim produksi untuk melakukan pengambilan gambar langsung di Makassar bukan tanpa alasan. Bagi Sultan Alimuddin, Makassar bukan sekadar titik geografis, melainkan medan tempur batin. Di sana, pemerintah kolonial Belanda mencoba memadamkan api perlawanannya dengan cara mengisolasinya dari Bumi Batiwakkal.
“Kami ingin penonton merasakan pedihnya pengasingan itu. Bagaimana rasanya menjadi seorang raja yang berdaulat, namun harus berada jauh dari tanah airnya karena menolak tunduk pada penjajah,” ungkap Yayan, sineas asli Berau yang menggarap proyek ini.
Adegan-adegan di Sulawesi Selatan akan menggambarkan kontras antara kerinduan mendalam Sultan pada Berau dengan ketetapan hatinya yang tidak goyah sedikit pun terhadap intimidasi Belanda.
Makassar dalam film ini diposisikan sebagai panggung pembuktian bahwa raga boleh terkurung, namun jiwa kepahlawanan tak bisa dipenjara.
Riset Mendalam untuk Akurasi Sejarah
Mengingat pentingnya periode pengasingan ini, tim produksi melakukan riset ekstensif terhadap arsip kolonial dan literatur sejarah di Makassar dan Berau.
Hal ini dilakukan agar setiap detil, mulai dari suasana dermaga Makassar tempo dulu hingga interaksi Sultan selama di pengasingan, terasa autentik.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa film “Raja Alam” tidak hanya menjadi tontonan fiksi, tetapi juga dokumen visual yang edukatif bagi generasi muda.
Momentum Menuju Gelar Pahlawan Nasional
Pengangkatan kisah pengasingan di Sulawesi Selatan ini menjadi sangat relevan mengingat saat ini Sultan Alimuddin sedang diusulkan sebagai
Pahlawan Nasional dari Kabupaten Berau.
Kisah pengasingan adalah bukti nyata pengorbanan personal yang luar biasa demi mempertahankan kedaulatan daerah.
“Pengasingan ke Makassar adalah bukti otentik perlawanan beliau. Beliau berbahaya bagi Belanda karena pengaruh dan prinsipnya.
Inilah yang ingin kami tonjolkan agar publik tahu mengapa beliau sangat layak disebut Pahlawan Nasional,” tambah Yayan.
Harapan Lewat Layar Lebar
Film yang mulai digarap sejak akhir 2025 ini ditargetkan tayang pada tahun 2026. Melalui sinematografi yang megah namun tetap menyentuh sisi kemanusiaan, “Raja Alam” diharapkan mampu membangkitkan rasa nasionalisme.
Penonton akan diajak melihat bahwa perjuangan Sultan Alimuddin tidak hanya terjadi di medan perang Berau, tetapi juga dalam kesunyian pengasingan di Sulawesi Selatan—sebuah perjalanan panjang seorang pemimpin yang memilih kehilangan kebebasan pribadinya demi harga diri bangsanya.
Poin-poin yang diperkuat dalam versi ini:
Sentuhan Emosional: Menggambarkan pengasingan bukan hanya sebagai perpindahan tempat, tapi sebagai perjuangan batin.
Koneksi Antar Daerah:
Menghubungkan sejarah Berau dan Makassar secara kuat.
Nilai Kepahlawanan: Menekankan bahwa pengasingan adalah bukti nyata Sultan Alimuddin tidak mau berkompromi dengan Belanda.(***)









