Home / Uncategorized

Rabu, 25 Maret 2026 - 11:48 WIB

litik Keledai: Dilema Pejabat di Antara Kerja dan Citra

​Oleh: Hasjaya

​Dahulu kala, ada fabel klasik tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor keledai. Ke mana pun mereka melangkah, komentar warga selalu membayangi. Naik keledai dianggap menyiksa hewan, jalan kaki dianggap bodoh, salah satu naik dianggap egois.

Singkat cerita, karena terlalu lelah mengikuti “standar” orang lain, mereka berakhir memanggul keledai itu sendiri. Sebuah tindakan konyol yang lahir dari keputusasaan menyenangkan semua orang.

​Fragmen kuno ini rupanya menemukan panggungnya kembali di Kota Palopo.
Baru-baru ini, publik kita riuh melihat aksi Wakil Walikota yang turun langsung memungut tumpukan sampah. Sebuah pemandangan yang tak lazim, namun segera memicu

“badai” perspektif yang kontradiktif.

​Bagi sebagian orang, ini adalah keteladanan. Seorang pemimpin yang tak segan mengotori tangan untuk urusan yang paling dasar: kebersihan kota. Namun, bagi barisan skeptis, tindakan ini segera diberi label “flexing” atau pencitraan. Mereka bertanya, “Kenapa bukan sistemnya yang diperbaiki? Kenapa harus pejabatnya yang memungut?”

Baca juga  DPMDP3A Morowali Gelar Penguatan Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak

​Namun, mari kita berandai-andai sejenak. Jika sang pejabat hanya diam di balik meja yang sejuk, memantau laporan di layar tablet, apakah kritik akan reda? Tentu tidak. Suara-suara sumbang akan segera berganti nada: “Apa kerjanya Wakil Walikota? Cuma diam? Gaji buta?”

​Inilah wajah asli politik kita hari ini—sebuah Dilema Keledai.
​Di era media sosial, setiap gerak-gerik pejabat adalah konten. Jika bekerja di lapangan, dianggap haus panggung. Jika bekerja di kantor, dianggap tak punya empati. Pejabat publik kini berada di titik di mana mereka tidak mungkin bisa memuaskan semua selera penontonnya.

Baca juga  Resmi Dilantik, Kapolresta Balikpapan Siap Bersinergi Demi Keamanan dan Kondusifitas Kota 

Pesan moral dari kisah keledai tadi sangatlah terang: Fokus pada pendapat orang hanya akan membuat segalanya kacau. Bagi seorang pemimpin, satu-satunya kompas yang bisa dipegang adalah integritas dan tujuan akhir.

Jika memungut sampah itu diniatkan untuk menggerakkan kesadaran warga—meski dicibir—maka lakukanlah. Karena pada akhirnya, yang akan dinilai sejarah bukanlah seberapa riuh tepuk tangan atau cemoohan penonton, melainkan apakah kota ini menjadi lebih baik atau tidak.

​Kritik adalah bumbu, namun prinsip adalah menu utama. Pemimpin yang terlalu sibuk “memanggul keledai” hanya agar tidak ditertawakan, pada akhirnya justru akan kehilangan arah perjalanannya sendiri.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Kinerja Waris Halid Terukur Kepeduliannya dengan Persoalan di Luwu Raya

Uncategorized

Sekda Yusman Mahbub Resmi Buka Lokakarya Perencanaan Penanggulangan AIDS, TBC, dan Malaria di Morowali

Uncategorized

Kapolres Morowali Pimpin Langsung Pengamanan Aksi Unjuk Rasa FSPMI

Uncategorized

Perumda Tirta Mangkaluku Kota Palopo, mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-356 Provinsi Sulawesi Selatan.

Uncategorized

PEMKAB MOROWALI AUDIENSI BERSAMA PT.IMIP, BAHAS TERKAIT TEKNIS OPERASIONAL INCINERATOR DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUSAHAAN

Uncategorized

Bupati Andi Rahim Saksikan MoU Baja untuk Dukungan Program MBG dan Koperasi Desa

Uncategorized

Polres Morowali Amankan Tiga Terduga Pelaku Pembakaran Kantor PT RCP, Satu Personel Terluk

Uncategorized

Menjaga Marwah Jurnalisme: Seruan Dr. Ninik Rahayu tentang Profesionalisme Pers dan Jurnalis