Home / Uncategorized

Rabu, 6 Agustus 2025 - 07:47 WIB

Kisah Ibu Bangsa yang Menulis Kemerdekaan dengan Darah dan Air Mata

PROFIL, PAMORNEWS — ​Di tengah hiruk pikuk perjuangan bangsa, sering kali kita lupa bahwa sejarah kita juga ditulis oleh tangan-tangan perempuan yang tegar. Salah satunya adalah Opu Daeng Risaju, seorang bangsawan dari Luwu, Sulawesi Selatan, yang memilih jalan terjal perjuangan ketimbang hidup nyaman dalam kemewahan istana. Kisahnya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah epik tentang pengorbanan, keberanian, dan cinta yang tak terhingga kepada tanah air.

Lahir sebagai Famajjah, ia memilih untuk menjadi bunga api yang membakar semangat rakyat. Dengan lantang, ia menentang penjajah Belanda melalui organisasi Sarekat Islam Indonesia (PSII), sebuah langkah yang sangat radikal pada masanya. Ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain, suaranya menggetarkan hati rakyat, menanamkan benih perlawanan di setiap sudut Luwu. Belanda tak tinggal diam. Mereka melihat Opu Daeng Risaju sebagai ancaman, seorang wanita yang jauh lebih berbahaya dari ribuan tentara.
​Ketika Kebencian Penjajah Mengubahnya Menjadi Pahlawan Sejati

Baca juga  Bulog Gelontorkan 4 Ton Beras SPHP di Gerakan Pangan Murah HUT Sulsel

Puncaknya adalah saat ia ditangkap. Penjajah Belanda mencoba mematahkan semangatnya dengan berbagai cara. Ia disiksa, dirantai, dan dipaksa berjalan kaki ratusan kilometer dari Palopo ke Watampone. Bayangkan, seorang wanita paruh baya, yang tubuhnya tak lagi sekuat masa muda, dipaksa menanggung penderitaan tak terperi. Penyiksaan fisik itu membuat pendengarannya rusak, membuatnya tuli permanen seumur hidup.

​Namun, di balik semua penderitaan itu, ada sebuah keajaiban. Penderitaan tidak membuatnya menyerah. Justru, ia menjadi semakin kuat. Rasa sakit itu tak memadamkan api perjuangan di hatinya. Ia membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tidak bisa dibungkam oleh rantai atau pukulan. Ia rela kehilangan pendengaran, gelar kebangsawanan, bahkan pernikahannya, demi satu hal: kemerdekaan bangsanya.
​Opu Daeng Risaju adalah pengingat bahwa pahlawan sejati tidak selalu bersenjata.

Baca juga  BPN Luwu Jelaskan Alur Pengurusan Roya: Kini Berbasis Elektronik dan Lebih Terukur

Pahlawan sejati adalah mereka yang berani menyuarakan kebenaran, bahkan ketika suaranya harus dibayar dengan darah dan air mata. Kisahnya mengajarkan kita tentang ketangguhan, bahwa kekerasan tidak akan pernah bisa mengalahkan keteguhan hati.

Kini, nama Opu Daeng Risaju terukir dalam sejarah sebagai Pahlawan Nasional. Kisahnya adalah warisan yang tak ternilai, sebuah cerita yang seharusnya kita renungkan. Mari kita jadikan semangatnya sebagai inspirasi untuk terus berjuang, bukan hanya melawan penjajah, tetapi juga melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan yang masih ada di sekitar kita. Mari kita teruskan perjuangan Opu Daeng Risaju, dengan cara kita masing-masing.(***)

Share :

Baca Juga

Ketua DPRD Dampingi Pj Wali Kota Palopo Studi Tiru Pengelolaan Sampah di Banyumas

Uncategorized

Ketua DPRD Dampingi Pj Wali Kota Palopo Studi Tiru Pengelolaan Sampah di Banyumas

Uncategorized

Polres Morowali Ungkap Kasus Peredaran Narkotika Golongan I Jenis Sabu di Desa Laroue

Uncategorized

Ujian Integritas Kejaksaan di Balik Dinding GRC DPRD Palopo

Uncategorized

Perjalanan Karir Penuh Semangat Ipda Dewi Suharti, Kanit PPA Polres Palopo

Uncategorized

Parkir Liar Siswa SMAN 4 Balikpapan Menjamur, Keselamatan Pengguna Jalan Terancam

Uncategorized

Pemda Morowali Dukung Penyuluhan dan Bimbingan Jabatan bagi Pencari Kerja
Dapur MBG Pertama di Tana Luwu Resmi Beroperasi, Siap Layani Ribuan Pelajar di Palopo

Uncategorized

Dapur MBG Pertama di Tana Luwu Resmi Beroperasi, Siap Layani Ribuan Pelajar di Palopo

Uncategorized

Merajut Sinergi, Wali Kota Palopo Ajak SMSI Lahirkan Informasi Konstruktif untuk Investasi Daerah