LUWU – Suasana di pintu gerbang perbatasan antara Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo mendadak tegang sore ini.
Massa demonstran yang tergabung dalam aliansi masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi protes keras dengan membawa atribut yang sangat mencolok: sebuah keranda jenazah.
Massa demonstran yang tergabung dalam aliansi masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi protes keras dengan membawa atribut yang sangat mencolok: sebuah keranda jenazah.
Keranda tersebut, yang dibalut kain putih bertuliskan “GUBERNUR SUL-SEL”, diusung berkeliling di area tapak batas sebagai simbol kekecewaan mendalam rakyat terhadap kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang dianggap tidak berpihak pada aspirasi masyarakat Luwu.
Lumpuhkan Jalur Trans-Sulawesi
Aksi ini menyebabkan antrean kendaraan yang cukup panjang di jalur utama yang menghubungkan kedua kabupaten tersebut.
Aksi ini menyebabkan antrean kendaraan yang cukup panjang di jalur utama yang menghubungkan kedua kabupaten tersebut.
Massa yang berkumpul di tengah jalan menjadikan keranda jenazah sebagai titik sentral orasi. Menurut orator aksi, keranda tersebut merupakan perlambang dari “matinya hati nurani penguasa” dalam mendengar jeritan masyarakat yang selama ini menuntut pembentukan Provinsi Tana Luwu.
Para pendemo menegaskan bahwa tuntutan ini adalah harga mati demi percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
Para pendemo menegaskan bahwa tuntutan ini adalah harga mati demi percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
Aksi Simbolis yang Menegangkan
Selain mengusung keranda “Gubernur Sul-Sel”, massa juga melakukan aksi bakar ban bekas yang mengirimkan kepulan asap hitam ke udara, menambah suasana mencekam di lokasi aksi.
Selain mengusung keranda “Gubernur Sul-Sel”, massa juga melakukan aksi bakar ban bekas yang mengirimkan kepulan asap hitam ke udara, menambah suasana mencekam di lokasi aksi.
“Kami membawa keranda ini bukan tanpa alasan. Ini adalah tanda bahwa keadilan di tana kami sudah dikubur hidup-hidup oleh janji-janji manis yang tidak terealisasi,” ujar salah satu koordinator lapangan dalam orasinya di hadapan massa yang memadati jalan.
Harapan Wija To Luwu
Warga dan aktivis yang hadir berharap aksi ini menjadi titik balik bagi perjuangan tuntutan keadilan bagi Wija To Luwu (masyarakat Luwu).
Warga dan aktivis yang hadir berharap aksi ini menjadi titik balik bagi perjuangan tuntutan keadilan bagi Wija To Luwu (masyarakat Luwu).
Selama ini, mereka merasa ‘ditinggalkan’ dalam proses pembangunan di Sulawesi Selatan, sehingga pemekaran menjadi provinsi baru dianggap sebagai solusi tunggal untuk mengejar ketertinggalan.
Arus lalu lintas di perbatasan Luwu-Wajo masih mengalami hambatan, namun massa tetap berkomitmen menyuarakan aspirasi mereka hingga mendapatkan respons nyata dari pemangku kebijakan.











