PALOPO — Udara di sekitar Istana Datu Luwu mulai terasa berbeda. Ada getaran tradisi yang kuat saat masyarakat bersiap menyambut dua peristiwa bersejarah sekaligus: Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80.
Tahun ini, peringatan tersebut bukan sekadar seremoni baris-berbaris atau pidato formal. Di bawah tema besar “SINGKERRU ININNAWA LIPU DIMENG EDE”, Kedatuan Luwu berupaya menjahit kembali ingatan kolektif masyarakat melalui rangkaian prosesi adat yang sakral dan jarang disaksikan publik.
Air Suci dan Napas Leluhur
Rangkaian kegiatan yang dijadwalkan berlangsung dari 19 hingga 25 Januari 2026 ini akan dibuka dengan ritual Mallekke Wae.
Ini bukan sekadar mengambil air biasa. Dipandu oleh Puang Angkuru, prosesi ini melibatkan pengambilan air yang disucikan untuk ritual Mappacakke Wanua (mendinginkan negeri).
Bayangkan iring-iringan pasukan berbaju adat, panji-panji yang berkibar, dan tabuhan gendang yang ritmis mengawal usungan air menuju pusat Istana Kedatuan Luwu.
Keheningan akan menyelimuti saat air tersebut menjalani prosesi maddojaroja—sebuah momen kontemplasi sebelum puncak acara dimulai.
Tak lupa, penghormatan kepada leluhur dilakukan melalui ziarah ke kompleks makam Datu Luwu di Pattimang, Luwu Utara.
Jembatan Tradisi dan Modernitas
Ketua Panitia Pelaksana, Andi Saddawero Kira (Maddika Ponrang), menegaskan bahwa perayaan kali ini adalah perpaduan antara pelestarian budaya dan diskusi intelektual.
“Rangkaian prosesi adat ini meliputi ziarah makam raja, seminar nasional (Silatnas), hingga Forum Nasional Keraton,” ungkapnya.
Tidak hanya soal masa lalu, UMKM lokal pun diberi ruang melalui pameran khusus, menunjukkan bahwa napas Kedatuan Luwu tetap relevan dengan denyut ekonomi rakyat hari ini.
Puncak dari segala keriuhan ini akan terjadi pada 23 Januari 2026. Halaman Istana Kedatuan Luwu akan menjadi saksi pemberian Anugerah Budaya Luwu 2026.
Ini adalah bentuk apresiasi setinggi-tingginya bagi mereka yang teguh menjaga nyala api kebudayaan di tanah Luwu.
Bagi warga Luwu, peringatan tahun ini adalah pengingat bahwa identitas mereka berakar pada sejarah panjang yang megah—sebuah sejarah perlawanan dan harga diri yang tak lekang oleh zaman.
Puncak Malam Penganugerahan
Segala keriuhan ini akan mencapai puncaknya pada 23 Januari 2026. Halaman Istana Kedatuan Luwu akan menjadi panggung bagi Anugerah Budaya
Luwu 2026, sebuah apresiasi setinggi-tingginya bagi mereka yang teguh menjaga nyala api kebudayaan di Tanah Luwu.
Rangkaian panjang ini kemudian akan resmi berakhir pada Ahad, 25 Januari 2026. Bagi warga Luwu, peringatan tahun ini bukan sekadar angka tahunan, melainkan pengingat bahwa identitas mereka berakar pada sejarah panjang yang megah—sebuah sejarah perlawanan, harga diri, dan harmoni yang harus terus dirawat.
(***)








