Oleh : [Baso Akhmad]
HARI ini, saat insan pers di seluruh penjuru negeri merayakan dedikasinya, Tana Luwu tidak sedang dalam suasana yang tenang.
Di tengah deru mesin kendaraan yang terhenti akibat blokade jalan Trans-Sulawesi dan kepulan asap ban yang terbakar dalam aksi tuntutan Provinsi Luwu Raya, peran jurnalisme lokal sedang diuji oleh sejarah.
Pers sebagai Penjernih di Tengah Tensi Tinggi
Gejolak pemekaran bukan sekadar isu birokrasi, melainkan manifestasi harga diri dan harapan masyarakat Luwu.
Namun, di tengah tensi tinggi ini, risiko disinformasi dan provokasi sangatlah besar.
Verifikasi di Garis Depan: Saat jalanan memanas, tugas pers bukan sekadar melaporkan “siapa yang menutup jalan,” tapi menjelaskan “mengapa mereka berjuang” tanpa harus membakar emosi lebih jauh.
Menjaga Nalar Publik: Pers harus menjadi pendingin (cooler) ketika narasi di media sosial mulai kehilangan arah dan cenderung memecah belah.
Menjaga Marwah Wija To LuwuPeringatan HPN tahun ini di Tana yang berjuluk Wanua Mappatuo Naewai Alena adalah momentum untuk menegaskan bahwa pena tidak boleh tunduk pada tekanan, namun tidak boleh pula lepas dari etika.
Jurnalis di Luwu Raya memiliki tanggung jawab ganda:
Menyuarakan aspirasi rakyat terkait pemekaran secara objektif.
Memastikan informasi yang disampaikan tetap menjaga persatuan dan keamanan warga di sepanjang jalur Trans-Sulawesi.
”Pers yang bebas bukan berarti pers yang liar. Di Tana Luwu, kebebasan pers adalah keberanian untuk menuliskan kebenaran demi kemaslahatan bersama, bahkan saat situasi sedang mencekam.”
Seruan untuk Hari Ini
Mari jadikan peringatan ini sebagai pengingat bagi seluruh pihak—baik demonstran, pemerintah, maupun aparat—bahwa jurnalis adalah mitra demokrasi.
Biarkan kamera dan pena bekerja memotret realita apa adanya, agar pesan dari Luwu terdengar sampai ke pusat tanpa terdistorsi oleh amarah.
Selamat Hari Pers Nasional. Teruslah berkarya, Wija To Luwu. Jaga nyala api kebenaran tanpa harus menghanguskan persaudaraan.(***)










