Home / News

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:06 WIB

APRI Tegaskan Penambang Rakyat Bukan PETI, Dorong Kebijakan Formalisasi untuk Lindungi Masyarakat

JAKARTA — ​Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) melalui Ketua Umumnya, Gatot Sugiharto, menegaskan bahwa menyamakan penambang rakyat tradisional dengan Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) merupakan sebuah kekeliruan besar.

Penambang lokal yang belum berizin dinilai tidak boleh serta-merta dicap sebagai pelaku kejahatan ilegal, mengingat aktivitas mereka didorong oleh kebutuhan ekonomi keluarga secara turun-temurun, bukan demi keuntungan modal besar.

​Penambang Perut: Masyarakat lokal yang menambang menggunakan peralatan sederhana berskala kecil semata-mata demi menyambung hidup. Lebih dari 80% penambang tradisional belum berizin bukan karena enggan taat hukum, melainkan terkendala ketiadaan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) serta minimnya sosialisasi.

Baca juga  FKJ-Nur Terima Rekomendasi PSI di Pilwalkot Palopo

​Penambang Keruk (PETI Terorganisir): Aktivitas ilegal berskala besar yang didukung oleh pemodal atau sindikat, menggunakan alat berat, serta berorientasi pada keuntungan maksimal di luar tata ruang yang diizinkan.​

Kendala Birokrasi dan Regulasi: Lambatnya penetapan WPR oleh pemerintah membuat masyarakat penambang terjebak dalam posisi rentan secara hukum, meskipun mekanisme perizinan melalui Izin Pertambangan Rakyat (IPR) telah diatur dalam UU Minerba dan aturan turunannya.

​Peluang dari Regulasi Baru: Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2022 serta UU Cipta Kerja yang mengembalikan kewenangan IPR ke tingkat provinsi dinilai membuka peluang percepatan legalisasi asalkan didukung komitmen pemda.

Baca juga  Sertifikasi Masjid, Langkah Penting Menuju Legalitas dan Perlindungan Rumah Ibadah

​Solusi dan Paradigma Kebijakan

​APRI mendorong terjadinya perubahan paradigma dari kriminalisasi menuju formalisasi. Langkah-langkah strategis yang diusulkan meliputi:

​Penegakan Hukum Proporsional: Penindakan tegas tetap difokuskan pada pelaku PETI terorganisir, perusak lingkungan, dan pengguna alat berat di kawasan terlarang.

​Percepatan Legalisasi: Pemerintah didorong segera menetapkan WPR dan mempermudah penerbitan IPR bagi masyarakat lokal.

​Pembinaan dan Edukasi: Memberikan pendampingan terkait keselamatan kerja serta teknologi pengolahan tambang yang ramah lingkungan guna menciptakan tata kelola pertambangan yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial.(**/aBa)

Share :

Baca Juga

News

Bupati Luwu Utara Lirik Pengelolaan Kampus ITN Yogyakarta untuk Pengembangan POLTEKIS Luwu Utara

News

Kursi “Panas” Bernilai Rp3 Miliar: Mengintip Pundi-Pundi Rupiah di Balik Lowongnya Posisi RMS
Ahmad Ali Tegaskan Pencalonan sebagai Gubernur Sulteng untuk Pengabdian

News

Dukungan Ahmad Ali Maju sebagai Calon Gubernur Sulawesi Tengah di Pilkada 2024

News

Sertifikasi Masjid, Langkah Penting Menuju Legalitas dan Perlindungan Rumah Ibadah

News

Figur yang Dilirik FKJ Jadi Pendamping di Pilwalkot Palopo 2024

News

Warga Dampala Sambut Rachmansyah Ismail Yel-yel Menang Bupatiku
Pic. Dok Herald

News

EDITORIAL PAMORNEWS ​Menakar Opsi ‘Bypass’ Provinsi Luwu Raya: Melompati Ego, Menjemput Takdir Ekonomi

News

Sosok H. Farid Kasim Judas dan Hj. Nurhaenih (FKJ-NUR) Punya Style Pemimpin Ideal