LUWU UTARA – Kebahagiaan tak terhingga menyelimuti keluarga seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kabupaten Luwu Utara, Suprihatin.
Putranya, Taufiq Arizal, siswa SMAN 4 Luwu Utara, dinyatakan lulus seleksi masuk ke perguruan tinggi bergengsi di Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas).
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kesederhanaan profesi orangtua bukanlah penghalang untuk meraih mimpi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Bagi Suprihatin sendiri yang sehari-harinya bergelut di sawah dan ladang mendampingi petani, kabar kelulusan putranya adalah “panen raya” paling dinanti.
Keberhasilan sang anak menembus Unhas, salah satu kampus terbaik Indonesia Timur, menjadi buah manis dari ketekunan belajar di sekolah dan dukungan orangtua.
“Alhamdulillah, anak lanangku, Taufiq Arizal, lulus Universitas Hasanuddin,” ungkap Suprihatin dalam akun media sosial pribadinya di Facebook, Jumat, (3/4/2026).
Ungkapan bahagia dari sang Ibu tentunya menjadi modal berharga bagi Taufiq Arizal untuk lebih siap memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Unhas.
Taufiq akan memulai langkah besarnya memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ini bukan sekadar pindah gedung, tetapi ini soal kemandirian meraih mimpi.
Siswa SMA Negeri 4 Luwu Utara ini pastinya akan membawa misi besar di bangku kuliah. Pasalnya, Taufiq merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya.
Apa yang dicapai Taufiq, diharapkan menjadi motivasi bagi siswa(i) lainnya agar tetap optimistis mengejar cita-cita hingga ke bangku perkuliahan, meski berasal dari daerah.
Seperti diketahui, Taufiq memang dikenal sebagai sosok pelajar yang penuh disiplin dan memiliki kemauan belajar yang kuat selama menimba ilmu di bangku SMA.
Terpisah, kolega sang Ibu yang juga seorang penyuluh pertanian, Ramsal, mengakui ketekunan dan keuletan Suprihatin, Ibunda Taufiq, juga menular ke sang anak.
“Sebagai anak dari seorang penyuluh pertanian, Taufiq terbiasa kerja keras, dan semangat itulah yang dibawanya ke sekolah hingga sukses lulus Unhas,” ungkap Ramsal.
Kini, sang anak diharapkan bisa membawa semangat pengabdian seperti sang Ibu lakukan ketika betugas sebagai penyuluh pertanian lapangan sebagai pejuang pangan.
Apa yang dicapai ini membuktikan Luwu Utara tidak pernah kehabisan talenta muda dari pelosok desa untuk bersaing secara akademik di level lebih tinggi. Selamat! (LHr)











