MASAMBA — Sebuah ironi besar sedang terjadi di pesisir Luwu Utara. Di saat nelayan di Kecamatan Malangke harus bertaruh nasib karena kelangkaan Solar subsidi, ribuan liter jatah mereka justru diduga “mengalir” deras ke arah timur, tepatnya ke kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah.
Bukan rahasia lagi, disparitas harga yang tinggi antara Solar subsidi dan Solar industri telah melahirkan komplotan mafia yang tega menumbalkan hak rakyat demi keuntungan pribadi. Modusnya sederhana namun memuakkan: menggunakan nama nelayan Malangke untuk mendapatkan rekomendasi, lalu menjual fisiknya ke perusahaan tambang.
Dokumen untuk Rakyat, Barang untuk Tambang
Penyalahgunaan surat rekomendasi menjadi kunci utama legalitas semu para mafia ini. Atas nama pemberdayaan nelayan, mereka menguras stok Solar di titik-titik pengisian. Namun, alih-alih dibawa ke dermaga Malangke, Solar-solar tersebut dikumpulkan dan dilarikan keluar provinsi.
”Ini bukan sekadar penyelundupan, ini adalah pencurian hak hidup nelayan kami. Nama kami dijual agar mereka bisa mendapatkan ‘Dollar’ di Morowali,” keluh seorang nelayan yang enggan disebutkan identitasnya.
Pungutan Liar dan Intimidasi
Informasi yang dihimpun menyebutkan adanya praktik pungutan liar mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000 per jeriken untuk memuluskan jalan bagi para pemain besar. Lebih jauh lagi, siapa pun yang mencoba menyentuh atau membongkar praktik ini akan berhadapan dengan tembok tinggi, bahkan kekerasan fisik.
Insiden penganiayaan yang menimpa Reski Halim di Gedung DPRD Luwu Utara saat hendak mengungkap kasus ini menjadi bukti nyata betapa “panasnya” bisnis haram ini. Kericuhan tersebut diduga kuat sebagai upaya pembungkaman agar alur distribusi ilegal ke Morowali tetap terjaga rapi.
Menunggu Ketegasan Hukum
Kini, publik Luwu Utara menanti keberanian Aparat Penegak Hukum (APH) dan pemerintah daerah. Apakah mereka akan membiarkan hak nelayan terus “dicuri” demi kemakmuran oknum di Morowali, ataukah mereka berani memutus rantai mafia ini hingga ke akar-akarnya?
Masyarakat nelayan Malangke tidak butuh janji, mereka butuh Solar mereka kembali.(***)
editor : aBa
Sumber : demi keamanan (tak disebutkan)











