TOLITOLI, PAMORNEWS — Bagi warga Kabupaten Tolitoli, nama Sungai Lembe kerap diasosiasikan dengan ancaman yang datang berulang kali. Setiap musim hujan tiba, sedimentasi dan penyempitan aliran sungai ini menjadi pemicu utama bencana banjir yang merendam permukiman dan mengganggu aktivitas ribuan jiwa.
Namun, harapan besar kini dihembuskan. Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, turun langsung ke lokasi, meninjau kondisi sungai yang kritis tersebut dan menegaskan bahwa solusi permanen harus segera direalisasikan.
Normalisasi: Bukan Sekadar Pekerjaan Teknis
”Normalisasi sungai ini bukan sekadar pekerjaan teknis biasa, tetapi sebuah ikhtiar besar untuk menyelamatkan ribuan warga dari ancaman banjir yang terus menghantui,” tegas Gubernur Anwar Hafid di lokasi peninjauan.
Peninjauan ini menegaskan kembali hasil kajian lapangan: bahwa akar masalah banjir di Tolitoli adalah pendangkalan parah dan penyempitan alami Sungai Lembe. Program normalisasi, yang akan segera disinergikan antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten, diarahkan untuk mengembalikan kapasitas ideal sungai agar mampu menampung debit air yang tinggi.
”Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah siap bersinergi, memastikan penanganan ini berjalan menyeluruh. Kami akan menyediakan dukungan teknis dan anggaran untuk mempercepat normalisasi ini,” janji Gubernur.
Kunci Keberlanjutan: Tata Kelola Lingkungan
Di tengah optimisme proyek fisik, Gubernur Anwar Hafid memberikan penekanan yang jauh lebih dalam: keberhasilan program ini sangat bergantung pada perubahan perilaku dan tata kelola lingkungan di sekitarnya.
”Saya tegaskan, normalisasi harus dibarengi dengan penguatan tata kelola lingkungan,” ujarnya. “Karena tanpa menjaga lingkungan, banjir hanya akan terus berulang.”
Normalisasi Sungai Lembe, menurut Gubernur, hanyalah setengah dari solusi. Setengahnya lagi adalah kesadaran kolektif untuk merawat kawasan sempadan sungai. Ini mencakup dua aspek krusial:
Penataan Pemukiman di Bantaran Sungai: Diperlukan langkah-langkah persuasif dan tegas untuk menata kembali permukiman yang berada terlalu dekat dengan bibir sungai, yang secara langsung berkontribusi pada penyempitan aliran.
Pengendalian Sampah: Peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah menjadi agenda utama. Sampah yang dibuang ke sungai mempercepat laju sedimentasi dan memperburuk kondisi saat banjir datang.
Penegasan ini menjadi pesan moral dan ajakan bagi seluruh elemen masyarakat Tolitoli. Proyek normalisasi akan menyediakan infrastruktur penyelamat, tetapi keberlanjutan “ikhtiar abadi” untuk bebas banjir hanya dapat terwujud jika sungai diperlakukan bukan hanya sebagai saluran air, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem kota yang harus dihormati dan dijaga bersama.(***)











