Home / Uncategorized

Rabu, 1 Oktober 2025 - 14:14 WIB

Reaktualisasi Nilai Adat Mappacci: Jembatan Kearifan Lokal Menuju Keluarga Modern Berkarakter

Reaktualisasi Nilai Adat Mappacci: Jembatan Kearifan Lokal Menuju Keluarga Modern Berkarakter
​
Oleh: Haidir Basir (hABe)
​
​TANAH LUWU, PAMORNEWS – Di tengah gempuran modernisasi dan arus globalisasi, tradisi Adat Mappacci dalam perkawinan masyarakat Tanah Luwu menghadapi dilema pelestarian. Secara hakikat, Mappacci bukan sekadar pesta jelang pernikahan, melainkan sebuah ritual simbolik yang menyimpan kekayaan filosofis: kesucian lahir batin, kebersamaan sosial, religiusitas mendalam, dan identitas kultural yang otentik.
​Namun, seiring perubahan sosial, ritual ini seringkali tereduksi menjadi sekadar seremoni belaka, penyempitan makna, bahkan komodifikasi. Tantangan ini menuntut sebuah upaya sadar dan kolektif: Reaktualisasi Nilai Adat Mappacci.
​
Mappacci dalam Perspektif Antropologi: Jantung Filosofi Bugis-Makassar
​Dalam kacamata antropologi budaya, Mappacci adalah perwujudan nyata dari siri’ (malu/harga diri) dan pesse’ (solidaritas/rasa kebersamaan) yang menjadi inti filosofi hidup masyarakat Bugis-Makassar. Ritual ini berfungsi ganda:
​Pembersihan Spiritual: Prosesi ini melambangkan pembersihan diri calon mempelai dari segala kotoran batin dan keraguan, menyiapkan mereka memasuki lembaran baru dalam keadaan suci dan siap secara mental.
​Penguatan Komunitas: Kehadiran sanak keluarga dan tokoh adat dalam prosesi meninjukkan adanya penguatan ikatan sosial (social bonding), di mana seluruh komunitas menjadi saksi dan pemberi restu, memikul tanggung jawab moral terhadap calon rumah tangga baru.
​Doa Kolektif: Mappacci adalah permohonan bersama (doa) untuk keselamatan, keberkahan, dan keharmonisan rumah tangga yang akan dibangun.
​Nilai-nilai luhur inilah yang menjadi landasan kuat untuk pembangunan karakter bangsa dan penguatan identitas lokal di tengah masyarakat modern yang cenderung individualis.
​
Adaptif dan Dinamis: Mappacci Sebagai Etika Zaman
​Reaktualisasi menempatkan Mappacci tidak semata-mata sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai sumber nilai yang adaptif dan dinamis. Ini berarti bahwa esensi Mappacci—kesucian, kebersamaan, dan religiusitas—harus dihidupkan kembali dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, melampaui seremoni pernikahan.
​
Dengan demikian, Mappacci dapat berfungsi sebagai pilar pembentukan keluarga yang harmonis, masyarakat yang menjunjung tinggi adab, serta identitas budaya yang tangguh di era globalisasi. Ia bertindak sebagai pedoman etika dalam menghadapi berbagai dinamika dan tantangan zaman.
​Ketika ritual Mappacci terus dilestarikan, seperti yang dilaksanakan menjelang pernikahan Ananda drg. Danti pada hari ini, 30 September 2025, hal itu bukan sekadar menjalankan tradisi. Itu adalah penegasan bahwa kearifan lokal mampu menjadi fondasi moral untuk membangun masyarakat modern yang beradab, religius, dan berkarakter tanpa kehilangan jati diri. ​Mappacci harus dilihat sebagai etika, bukan hanya estetika. (***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Bupati Andi Rahim Minta ASN Luwu Utara Banyak Baca Buku Sejarah Perjuangan Bangsa

Uncategorized

Dugaan Penganiayaan di Aspol: Bripda DP Tewas Tak Wajar, 6 Polisi Diperiksa Propam

Uncategorized

Info Pembayaran Air

Uncategorized

Luar Biasa! Camat Bara Pikul Beras di Atas Pundak Demi Tolong Warga Lumpuh

Uncategorized

Wabup Iriane Iliyas Buka Uji Kompetensi Manajerial dan Sosial Kultural JPT Pratama Morowali 2025

Uncategorized

Kilang RDMP Balikpapan Beroperasi, RI Pangkas Impor BBM Rp 60 Triliun

Uncategorized

Sinergi BUMN: PELNI Berangkatkan 1.230 Pemudik Gratis dari Balikpapan ke Surabaya

Uncategorized

Dugaan Skandal Rokok Ilegal di Sulsel: Jaringan Pengusaha Besar dan Oknum Bea Cukai Terendus