Home / Uncategorized

Jumat, 9 Januari 2026 - 13:32 WIB

Klakson: Fitur Paling Sia-sia di Kota Beriman?

​BALIKPAPAN – Jika Anda seorang produsen otomotif dan ingin melakukan riset tentang daya tahan tombol klakson, jangan lakukan itu di Balikpapan.
Di kota ini, tombol mungil di samping ibu jari itu mungkin menjadi komponen kendaraan yang paling jarang berumur pendek.
Ia ada, ia berfungsi, tapi ia seolah “mati suri” di tengah kedisiplinan warga Kota Beriman.
​Sudah belasan hari saya menghirup udara Kalimantan Timur. Sebagai pendatang, ada sebuah kesadaran yang terusik setiap kali saya melintasi aspal kota yang nihil sampah berserakan ini. Hampir setiap hari saya menempuh perjalanan dari kawasan Sepinggan menuju Klandasan.
Di tengah arus kendaraan yang padat, saya menemukan sebuah anomali: hening.
​Nyaris tanpa suara klakson yang menggelegar.
Logika saya pun mulai bermain: Untuk apa fitur ini diciptakan kalau tak pernah disentuh ibu jari agar berbunyi? Di kota-kota lain, klakson adalah bahasa komunikasi—mulai dari menyapa, protes, hingga bentuk kemarahan.
Namun di sini, klakson terasa seperti fitur yang sia-sia.
​Keheningan itu akhirnya pecah suatu siang. Tiba-tiba, suara klakson yang memekak telinga datang dari arah belakang. Suara itu begitu dominan, seolah memaksa ruang jalan menjadi miliknya sendiri.
Seketika, memori saya terlempar ke kota domisili saya sebelumnya. Suara itu mengingatkan saya pada keriuhan jalanan di Sulawesi Selatan yang tak pernah tidur dari bunyi “telolet” maupun klakson standar.
​Saya pun menepi, memberi jalan bagi pengemudi yang tampak sedang buru-buru itu. Saat kendaraan itu melesat mendahului saya, saya terperanjat.
Bukan pelat KT yang saya lihat di bagian belakang mobil pick-up tersebut, melainkan pelat DD.
​Pantas saja. Dalam beberapa detik, saya merasa sedang tidak berada di Balikpapan. Saya merasa sedang berada di daerah asal saya, Sulawesi Selatan, yang memang riuh rendah dengan bunyi klakson, tak peduli siang atau malam.
Di sana, berkendara tanpa bunyi klakson mungkin terasa ada yang kurang—seperti makan sayur tanpa garam.
​Kejadian itu menjadi ironi yang menarik. Di satu sisi, ada kebanggaan melihat bagaimana warga Balikpapan mampu menjaga adab di jalan raya tanpa harus berisik.
Di sisi lain, kehadiran pelat luar itu menjadi pengingat bahwa budaya berkendara kita masih sangat beragam.
​Di Balikpapan, saya belajar bahwa klakson memang menjadi fitur yang “sia-sia” jika kesabaran dan saling menghargai sudah menjadi fitur utama dalam diri setiap pengemudinya.
Mungkin, keheningan di jalan raya Klandasan adalah cara kota ini menunjukkan imannya: bahwa ketenangan adalah bagian dari kenyamanan yang harus dijaga bersama.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Jelang HUT Ke-129, DPRD Soroti Belanja Infrastruktur Balikpapan yang Minim
Sekot Palopo Ingatkan ASN Adalah Pelayan Masyarakat

Uncategorized

Sekot Palopo Ingatkan ASN Adalah Pelayan Masyarakat

Uncategorized

Pemkab Morowali Jamu Makan Siang Pangdam XXIII/Palaka Wira

Uncategorized

Beasiswa Tahap III Morowali Cair, 718 Mahasiswa Sudah Terima Dana

Uncategorized

Mengunci “Lumbung Emas”, Mengapa Sulsel Sulit Merestui Luwu Raya?

Uncategorized

Bangun Silahturahmi dan Kolaborasi, Kapolres Morowali Coffe Morning Bersama Insan Pers

Uncategorized

Polres Morowali Gelar Patroli Perintis Presisi untuk Menjaga Stabilitas Kamtibmas di Malam Hari

Uncategorized

Semangkuk Bubur, Sepercik Tawa: Bertemu Figur Sentral Luwu Raya