Home / Uncategorized

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:39 WIB

“Wattunnami Mammesakki”: Getar Suara Wija To Luwu dari Tanah Bombana

​BOMBANA – Sebuah video singkat berdurasi kurang dari satu menit mendadak menjadi perbincangan hangat di grup-grup WhatsApp dan linimasa media sosial warga Sulawesi.
Di dalam video itu, tampak Ir. H. Burhanuddin, M.Si., Bupati Bombana, berdiri dengan raut wajah penuh kesungguhan. Namun, kali ini ia bukan sekadar bicara sebagai penguasa administratif di Sulawesi Tenggara. Ia bicara sebagai seorang anak suku, seorang Wija To Luwu.
​”Wattunnami Mammesakki,” ucapnya lugas.
​Kalimat dalam bahasa Bugis-Luwu itu bukan sekadar deretan kata. Maknanya dalam: “Sudah waktunya kita bersatu.” Bagi masyarakat di jazirah utara Sulawesi Selatan, kalimat ini adalah “mantra” perjuangan yang telah menggema selama puluhan tahun demi satu cita-cita: berdirinya Provinsi Luwu Raya.
​Melintasi Batas Administratif
​Pemandangan ini tergolong unik. Seorang kepala daerah di Sulawesi Tenggara secara terbuka menyuarakan dukungan untuk pembentukan provinsi baru di provinsi tetangga, Sulawesi Selatan.
Namun, bagi H. Burhanuddin yang juga menjabat sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Kabupaten Bombana, sekat administratif hanyalah garis di atas peta. Darah dan jati diri tidak mengenal batas provinsi.
​Dukungan ini menjadi angin segar sekaligus “bensin” bagi api perjuangan masyarakat Luwu Raya (Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur).
Pesan tersebut seolah mengingatkan bahwa perjuangan ini tidak hanya milik mereka yang tinggal di kaki Gunung Latimojong atau di pesisir Teluk Bone, tetapi juga milik ribuan perantau yang telah sukses di tanah orang.
​Simbol Kekuatan Kolektif
​Pilihan kata “Mammesakki” (Bersatu) yang dipilih Burhanuddin menyentuh titik paling krusial dalam perjuangan Daerah Otonomi Baru (DOB) ini.
Selama ini, tantangan terbesar pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan hanya soal moratorium di Jakarta, melainkan juga soal penyatuan visi di internal daerah sendiri—terutama terkait pembentukan Kabupaten Luwu Tengah sebagai prasyarat administratif.
​Dengan kapasitasnya sebagai tokoh berpengaruh di Bombana sekaligus ketua paguyuban keluarga, Burhanuddin seolah mengirim pesan kepada para elit politik di Tana Luwu: Jika kami di perantauan saja bisa bersatu dan peduli, mengapa kalian yang di sana tidak?
​Menanti Fajar di Tana Luwu
Pernyataan “Wattunnami” (Sudah Waktunya) adalah sebuah klaim urgensi. Di tengah dinamika politik nasional tahun 2026, suara dari Bombana ini menambah daftar panjang dukungan moral yang kian solid.
KKLR di bawah kepemimpinan figur-figur seperti Burhanuddin kini bukan lagi sekadar wadah silaturahmi untuk acara seremonial, melainkan telah menjelma menjadi instrumen penekan yang diperhitungkan.
​Kini, bola panas kembali ke pusat. Namun bagi masyarakat Luwu Raya, dukungan dari “saudara jauh” di Bombana telah membuktikan satu hal: identitas sebagai Wija To Luwu adalah ikatan yang takkan putus oleh jarak.
​Saat video itu berakhir dan layar ponsel meredup, gema “Wattunnami Mammesakki” masih tersisa, menjadi pengingat bahwa fajar bagi Provinsi Luwu Raya mungkin memang sudah di ambang pintu.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Uncategorized

Bupati Morowali Bersama Dandim dan Kapolres Gelar Silaturahmi dengan Tim Gankso Bahodopi

Uncategorized

Cendrana Saputra: Sosok Muda Penggerak di DPRD Palopo

Uncategorized

Satu Tahun Pemerintahan AMAN JI, Pemuda Salassa Gelar Refleksi Kritis untuk Luwu Utara

Uncategorized

Dukung Zero ODOL 2027, Sekda Morowali Yusman Mahbub Awasi Penertiban Kendaraan Over Dimensi dan Over Loading

Uncategorized

Jejak Langkah Sang Jenderal di Tanah Harapan: Membaca Sinyal IKN di Era Prabowo
Dirgahayu Kota Palopo Ke- 22 Tahun

Uncategorized

Dirgahayu Kota Palopo Ke- 22 Tahun

Uncategorized

Mohon Maaf Lahir dan Batin, Selamat Idul Fitri 1445 H