PENAJAM PASER UTARA – Deru baling-baling helikopter Super Puma memecah kesunyian sore di kawasan Penajam Paser Utara, Senin (12/1/2026).

Di balik jendela kaca, tatapan tajam Presiden Prabowo Subianto menyisir lekuk-lekuk bangunan megah yang kini berdiri di atas tanah yang dulunya hutan belantara. Bagi Prabowo, ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah sebuah proklamasi keberlanjutan.
Saat kakinya menyentuh landasan, ada sebuah gestur yang mencuri perhatian. Bukan sekadar jabat tangan formal, melainkan tatapan takjub saat melihat rumput hijau di halaman Istana.
“Ini rumput beneran atau apa ya?” gumamnya ringan, sebuah celetukan manusiawi yang memecah ketegangan formalitas protokoler.
Namun, di balik humor tipis itu, Prabowo membawa misi yang sangat serius: menjadikan IKN sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028.
Bukan Sekadar Warisan, Tapi Masa Depan
Banyak yang sempat meragukan komitmen Sang Jenderal terhadap mega proyek ini.
Fokusnya pada program makan bergizi gratis sempat dianggap akan meminggirkan IKN ke laci sejarah. Namun, kehadiran Prabowo di sini menghapus semua spekulasi itu. Presiden datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai nakhoda yang siap mengencangkan layar.
”Pak Jokowi sudah mengambil peran sejarah sebagai inisiator. Saya yang akan melanjutkan, kalau bisa saya yang menyelesaikan,” tegasnya dengan nada bicara yang mantap.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang sangat masif di sektor infrastruktur dasar, Prabowo membawa nuansa yang lebih strategis dan fungsional.
Targetnya jelas: dalam empat tahun ke depan, gedung-gedung Legislatif (DPR/MPR) dan Yudikatif (Mahkamah Agung) harus berdiri tegak mendampingi gedung Eksekutif yang sudah ada.
Baginya, IKN tidak bisa disebut ibu kota jika hanya dihuni oleh presiden dan para menteri.
“Kalau kita pindah hanya eksekutifnya, terus rapatnya sama siapa?” ungkapnya retoris.
Pesan ini menegaskan bahwa IKN di eranya akan didorong menjadi ekosistem pemerintahan yang utuh, sebuah jantung politik Indonesia yang sebenarnya.
Menjaga Marwah di Tengah Hutan
Dalam kunjungan ini, Prabowo juga memberikan catatan kritis. Ia meminta perbaikan pada desain dan fungsi agar benar-benar siap menampung ribuan ASN tanpa mengorbankan kenyamanan.
Bahkan, rencana pembangunan sekolah unggulan seperti SMA Taruna Nusantara di IKN menjadi salah satu prioritasnya tahun ini—sebuah bukti bahwa beliau ingin membangun “nyawa” di kota ini, bukan sekadar beton dan aspal.
Senja di Nusantara hari itu ditutup dengan optimisme. Prabowo tidak hanya membawa rombongan menteri, tapi membawa kepastian bagi para investor dan rakyat Indonesia. Bahwa IKN tetap melaju, bukan karena ambisi pribadi, melainkan sebagai benteng pertahanan Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pemerataan ekonomi.
Sejarah baru sedang ditulis. Jika Jokowi adalah sang arsitek yang menggambar garis pertama, Prabowo nampaknya ingin menjadi pembangun yang memastikan setiap pilar berdiri kokoh untuk berabad-abad lamanya.(***)











