LUWU – Jalur Trans Sulawesi di Desa Marabuana, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, kini kembali normal. Aliansi Wija to Luwu resmi membuka blokade jalan pada Selasa (27/1/2026) setelah menutup akses utama tersebut selama lima hari berturut-turut sejak Jumat pekan lalu.

Aksi yang dikenal dengan istilah “Revolusi Senso” ini sebelumnya dilakukan massa dengan menebang pohon ke badan jalan. Langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk desakan agar pemerintah pusat segera mempercepat pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB), yakni Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah.
Pendekatan Persuasif Mabes Polri
Titik terang tercapai setelah Direktur Bidang Politik Mabes Polri, Brigjen Pol Dwi Suryo Cahyono, turun langsung ke lapangan. Menariknya, jenderal
bintang satu ini memilih pendekatan yang jauh dari kesan kaku.
Gaya Santai: Datang tanpa seragam dinas (berpakaian preman).
Negosiasi Cepat: Melakukan dialog intim selama kurang lebih 30 menit bersama koordinator lapangan dan tokoh aliansi.
Kesepakatan dan Jalur Advokasi
Hasil dari perundingan tersebut membuahkan kesepakatan bahwa massa akan menghentikan aksi blokade dan beralih ke jalur konstitusional.
Beberapa poin penting yang disepakati meliputi:
Advokasi Berjenjang: Perjuangan pemekaran akan dilanjutkan melalui jalur advokasi ke tingkat Pemerintah Provinsi hingga Pusat.
Anggaran CDOB: Aliansi menuntut alokasi anggaran pembangunan khusus untuk persiapan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) di wilaya
Walenrang-Lamasi (Walmas).
Fasilitasi Pertemuan: Brigjen Pol Dwi Suryo menjamin akan menjembatani pertemuan antara perwakilan aliansi dengan para kepala daerah se-Luwu Raya dalam waktu dekat.
Dengan dibukanya jalur ini, arus logistik dan transportasi yang sempat tersendat selama hampir sepekan kini mulai mengalir kembali.
Meski blokade dibuka, pihak Aliansi menegaskan akan terus mengawal janji pemerintah terkait pemekaran wilayah yang telah lama dinantikan masyarakat Luwu.(***)









