PALOPO – Kota Palopo baru saja melepas salah satu “tamunya” yang paling rapuh. Sulastri (73), seorang lansia yang selama ini hidup dalam keterbatasan di Palopo, akhirnya diberangkatkan pulang menuju kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur, melalui jalur laut, Selasa (3/3/2026).
Kepulangan Sulastri bukan sekadar perpindahan warga, melainkan sebuah misi kemanusiaan yang melibatkan koordinasi lintas pulau. Dari Palopo hingga bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, perjalanan ini menjadi saksi bisu keteguhan seorang ibu yang merindu tanah kelahiran di sisa usianya.
Tubuh Ringkih di Atas Gelombang
Kondisi Sulastri jauh dari kata bugar. Berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Kota Palopo, ia berada dalam kondisi lumpuh total. Ia tak lagi mampu berdiri, apalagi berjalan secara mandiri. Di atas kapal yang membelah lautan menuju Surabaya, Sulastri hanya bisa terbaring lemas.
Kondisi Sulastri jauh dari kata bugar. Berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Kota Palopo, ia berada dalam kondisi lumpuh total. Ia tak lagi mampu berdiri, apalagi berjalan secara mandiri. Di atas kapal yang membelah lautan menuju Surabaya, Sulastri hanya bisa terbaring lemas.
Secara fisik, kesehatannya terus menurun. Secara mental dan sosial pun, komunikasinya mulai terbatas. Namun, komitmen Pemerintah Kota Palopo melalui Dinas Sosial memastikan bahwa Sulastri tidak dibiarkan sendiri dalam kondisi malang tersebut.
”Laporan dari rekan-rekan di Dinsos Kota Palopo menyebutkan kondisi klien memang sangat membutuhkan penanganan khusus. Beliau lumpuh dan tidak bisa beraktivitas mandiri,” ujar Kabid Penanganan Bencana Dinsos Jatim, Sukardi, saat menyambut kedatangan Sulastri di Surabaya.
Estetika Kemanusiaan: Palopo ke Jawa Timur
Proses pemulangan ini menjadi bukti bahwa jarak ribuan kilometer tidak menghalangi kepedulian. Setelah dirawat dan difasilitasi oleh otoritas di Palopo, Sulastri kini telah diserahterimakan kepada Dinsos Jawa Timur untuk mendapatkan perawatan medis dan sosial yang lebih komprehensif.
Proses pemulangan ini menjadi bukti bahwa jarak ribuan kilometer tidak menghalangi kepedulian. Setelah dirawat dan difasilitasi oleh otoritas di Palopo, Sulastri kini telah diserahterimakan kepada Dinsos Jawa Timur untuk mendapatkan perawatan medis dan sosial yang lebih komprehensif.
Saat ini, fokus utama adalah melakukan asesmen awal terkait kondisi fisiknya yang tampak kurang sehat, terutama pada bagian kaki yang tak lagi bisa digerakkan.
Menanti Kabar dari Ngawi
Menanti Kabar dari Ngawi
Meski kini sudah berada di Jawa Timur, tugas besar masih menanti. Dinsos Jatim sedang bergerak cepat melakukan pelacakan keluarga ( tracing family ) di Kabupaten Ngawi. Selama proses pencarian keluarga berlangsung, negara hadir memberikan perlindungan sementara.
”Kami akan tetap memberikan perlindungan dan pelayanan sementara kepada yang bersangkutan sembari melakukan pelacakan keluarga,” tegas Sukardi.
Bagi warga Palopo yang mungkin pernah berinteraksi atau mengenal sosok Sulastri selama berada di kota ini, kabar kepulangannya merupakan sebuah penutup babak yang melegakan. Kini, doa-doa dari Palopo menyertai langkah Sulastri agar segera bertemu kembali dengan keluarga dan menghabiskan masa tuanya dengan layak di tanah kelahirannya.(***)










