PALOPO — Diapit oleh birunya Teluk Bone dan hijaunya pegunungan, Kota Palopo—bekas pusat kedatuan Luwu—selalu memancarkan pesona sejarah dan perdagangan. Namun, di tengah denyut modernitas, kota ini menghadapi tantangan klasik: infrastruktur yang menua dan tuntutan akan pelayanan publik yang lebih prima.

Merespons kondisi ini, sebuah seruan kolektif “Palopoku, Ayo Berbenah” digaungkan, menandai titik balik penting: dari sekadar mengandalkan pemerintah, kini inisiatif perbaikan diambil alih bersama oleh warga kota.
Jalan Rusak dan Drainase Jadi Sorotan Utama
Seruan ini muncul bukan tanpa alasan. Berdasarkan catatan, isu mendesak di Palopo meliputi perbaikan jalan yang memerlukan perapian, sistem drainase yang harus segera dinormalisasi untuk mencegah banjir tahunan, sampah menggunung ,serta kebutuhan mendasar akan pelayanan publik yang lebih cepat dan transparan.
Sejumlah upaya perbaikan infrastruktur memang telah gencar dilakukan pemerintah, terutama di bidang penanganan banjir dan perbaikan jembatan.
Misalnya, langkah cepat Pemerintah Kota Palopo dalam membatasi muatan kendaraan di Jembatan Ahmad Razak dan Jembatan Carede II sambil menunggu rekonstruksi permanen, menunjukkan keseriusan dalam menjaga aset vital.
Selain itu, alokasi anggaran yang signifikan untuk pembangunan talud dan normalisasi sungai juga menjadi bukti respons pemerintah terhadap masalah lingkungan.
Namun, semangat “Palopoku, Ayo Berbenah” menekankan bahwa perbaikan ini tak akan berhasil tanpa partisipasi aktif dari akar rumput.
Gotong Royong Modern: Dari Selokan hingga Aspirasi
Inti dari gerakan ini adalah menggeser paradigma pembangunan dari yang bersifat top-down menjadi gerakan “gotong royong modern”.
”Membangun kota bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh warga,” demikian Haidir Basir dalam seruannya di laman medsosnya.
Pesannya sederhana, tetapi mendalam: Setiap langkah kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon di lingkungan sekitar, hingga aktif menjaga kebersihan selokan, adalah kontribusi nyata bagi wajah kota.
Bahkan, menyampaikan aspirasi dengan cara yang santun dan konstruktif dianggap sebagai bagian penting dari “berbenah.”
Data dan laporan pemerintah menunjukkan adanya rencana jangka panjang (RPJPD) yang bertujuan menjadikan Palopo sebagai kota maju, inovatif, dan berkelanjutan. Berbagai program, mulai dari pembangunan jembatan penghubung hingga peninjauan pembangunan jembatan gantung untuk akses warga, sedang diakselerasi. Gerakan warga ini hadir sebagai mitra kritis dan pelengkap, memastikan setiap program pemerintah mendapat dukungan implementasi dan pengawasan langsung dari masyarakat.
Menuju Palopo yang Lebih Hijau dan Berbudaya
Tujuan akhir dari seruan ini adalah membentuk Palopo sebagai kota yang maju, hijau, dan berbudaya. Ini adalah refleksi dari harapan warga agar Palopo tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga mempertahankan keindahan alamnya serta nilai-nilai budaya Luwu yang kental.
Di tengah kesibukan birokrasi dan hiruk pikuk politik, suara “Palopoku, Ayo Berbenah” menjadi pengingat yang kuat. Masa depan kota niaga ini, yang terletak di jantung Tana Luwu, sesungguhnya ditentukan oleh tingkat kepedulian yang diwujudkan setiap warga hari ini.(***)











