PAOPO, PAMORNEWS — Dibalik sosok Raja Luwu yang gagah, terdapat seorang permaisuri yang tak kalah berani dan patriotik, yaitu Andi Tenripadang. Namanya mungkin tidak setenar suaminya, Andi Djemma, Pahlawan Nasional dari Luwu. Namun, perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, sangatlah signifikan.
Menyatukan Dua Kerajaan Besar
Andi Tenripadang lahir sebagai putri dari Andi Mappanyukki, seorang Raja Bone yang juga diakui sebagai Pahlawan Nasional. Pernikahannya dengan Andi Djemma, Datu (Raja) Luwu ke-36, bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga dua garis keturunan bangsawan dari Kerajaan Bone dan Kerajaan Luwu. Aliansi ini memperkuat posisi kedua kerajaan dalam menghadapi penjajah.
Namun, Andi Tenripadang tidak hanya dikenal karena statusnya sebagai putri raja atau permaisuri. Ia adalah sosok yang memiliki tekad baja. Salah satu riwayat terkenal menyebutkan bahwa saat ultimatum dari Belanda berakhir, ia dengan lantang berkata, “Saya dan Datu kalian sudah ingin mendengar suara letusan senjata.” Kata-kata ini menunjukkan keberaniannya yang luar biasa, seolah ia menyambut pertempuran dengan semangat juang yang tinggi.
Melanjutkan Perjuangan Setelah Suami Ditangkap
Ketika suaminya, Andi Djemma, ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, Andi Tenripadang tidak menyerah. Justru, ia mengambil alih tongkat kepemimpinan. Ia diangkat sebagai Datu Luwu ke-37 dengan gelar Opu Datu. Di bawah kepemimpinannya, ia terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda.
Perjuangan Andi Tenripadang adalah bukti bahwa perempuan tidak hanya berperan di belakang layar, tetapi juga di garis depan. Ia menjadi simbol perlawanan dan keberanian bagi rakyat Luwu dan seluruh pejuang kemerdekaan di wilayah tersebut. Warisan perjuangannya terus dikenang hingga hari ini, menjadikannya salah satu sosok perempuan inspiratif dalam sejarah Indonesia.(***)











