Home / Uncategorized

Senin, 26 Januari 2026 - 02:00 WIB

Dapur Warga Mappedeceng Menjadi Penyelamat di Tengah Lumpuhnya Trans Sulawesi

LUWU UTARA – Matahari di langit Luwu Utara mungkin terasa membakar, namun tak sepanas aspal jalanan yang terpaksa menjadi “kasur” bagi ratusan sopir truk dan bus selama tiga hari terakhir.

Sejak Jumat, 23 Januari 2026, urat nadi Trans Sulawesi di poros Luwu Utara terhenti. Blokade di Jembatan Baliase mengubah jalan raya menjadi tempat parkir raksasa yang sunyi sekaligus mencekam bagi mereka yang terjebak.

​Di tengah ketidakpastian itu, sebuah pemandangan kontras terlihat di Dusun Nanna, Desa Mappedeceng. Di depan Toko Aluminium Tapana Putri, kepul asap dari dapur darurat justru membawa kabar baik.

Bukan asap dari ban yang dibakar demonstran, melainkan aroma kopi dan masakan rumah yang hangat.

​Panggilan Nurani dari Tepi Jalan​

Udin, pemilik toko tersebut, tak sampai hati melihat para pelintas yang layu karena kelaparan. Di wilayah Mappedeceng, rumah makan tak banyak, dan stok logistik para sopir telah lama habis sejak hari pertama kemacetan.

Baca juga  Info Gangguan Layanan Air

​”Kami buka dapur umum bagi siapa saja yang ingin makan dan minum. Ini gratis,” ujar Udin dengan nada rendah namun tegas. Baginya, ini bukan soal politik atau tuntutan yang sedang diperjuangkan di jembatan sana, melainkan soal kemanusiaan yang mendesak.

​Di dapur sederhana itu, ibu-ibu desa sibuk tak henti. Tangan-tangan cekatan mereka meracik teh hangat dan menyeduh kopi, seolah menjadi “ibu” bagi para sopir yang jauh dari rumah. Bagi seorang sopir truk yang sudah dua malam tidur di atas kerasnya aspal, segelas teh manis bukan sekadar minuman, melainkan pengingat bahwa mereka tidak sendirian.
​

Solidaritas di Tengah “Lockdown”
​Kondisi di lapangan memang memprihatinkan. Ratusan kendaraan terjebak tanpa celah untuk berbalik arah. Di malam hari, pemandangan para pelintas yang meringkuk di pinggir jalan menjadi pemandangan harian yang menyayat hati.

Baca juga  Bupati Morowali Serahkan Bantuan Sambungan Listrik untuk 26 KK di Dusun Bahombelu, Wujud Pemerataan Pembangunan 

​”Alhamdulillah, dapur umum ini sangat membantu. Kami prihatin melihat kondisi para sopir dan pelintas,” tambah Udin.

​Kehadiran dapur umum di Mappedeceng menjadi oase di tengah gersangnya situasi Trans Sulawesi yang sedang “lumpuh”. Warga desa membuktikan bahwa meski akses jalan tertutup dan ketegangan meningkat, pintu hati mereka tetap terbuka lebar.
​Sebuah Pelajaran dari Mappedeceng

Hingga Minggu siang, 25 Januari 2026, blokade mungkin masih menjadi penghalang fisik. Namun, di Dusun Nanna, sekat-sekat antara warga lokal dan pendatang melebur dalam piring-piring makanan gratis.

​Di saat suara tuntutan bergaung keras di ujung jembatan, di sisi lain jalan, suara denting sendok dan tawa kecil para sopir yang akhirnya bisa makan layak memberikan pesan yang lebih kuat: bahwa dalam situasi sesulit apa pun, gotong royong adalah satu-satunya jalan yang tidak boleh terputus.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

BUPATI IKSAN BAHARUDDIN DORONG OPTIMALISASI ZAKAT MELALUI BAZNAS UNTUK KESEJAHTERAAN UMAT

Uncategorized

Bungku Tengah menjadi Penutup rangkaian Apel Umum, ini pesan Bupati Iksan

Uncategorized

Wabup Morowali Iriane Iliyas Pimpin Upacara Penurunan Bendera HUT RI ke-80

Uncategorized

Info Layanan Distribusi Air

Uncategorized

Wujudkan Pembangunan Terukur, Pemkab Morowali Perkuat Tata Kelola Lewat Forum Satu Data

Uncategorized

Izin Prinsip Tak Kunjung Terbit, Pertamina Sulselbar Dituding Abaikan Rekomendasi KKP RI Terkait SPBUN Bonepute

Uncategorized

Menanti ‘Tangan Emas’ Investor Pantai Labombo dari Kawasan Dugem ke Destinasi Keluarga yang Terbengkalai

Uncategorized

etak Dinding Parlemen Memunculkan Dugaan Korupsi