LUWU TIMUR – Gelombang unjuk rasa menuntut pembentukan Provinsi Luwu Raya yang melumpuhkan jalur Trans Sulawesi berdampak langsung pada meroketnya harga kebutuhan pokok, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM).

Di wilayah Mangkutana, Luwu Timur, harga bensin eceran dilaporkan menyentuh angka fantastis, yakni Rp40.000 per botol.
Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan percakapan antara pengendara dan penjual bensin botolan di pinggir jalan.
Dalam video tersebut, penjual menawarkan Pertalite dan Pertamax dengan harga yang disamakan.
”Sama kah harganya Pertalite dengan Pertamax?” tanya seorang pembeli pria.
“Iya, sama ji. 40 ribu,” jawab penjual tersebut singkat.
Pemicu Kelangkaan: Blokade di Walmas dan Masamba
Lonjakan harga ini bukan tanpa alasan. Sejak Jumat (23/1/2026), ribuan pengunjuk rasa yang tergabung dalam aliansi pejuang Provinsi Luwu Raya menutup total akses jalan di beberapa titik krusial, termasuk di wilayah Walenrang (Walmas) dan Jembatan Baliase (Masamba).
Penebangan pohon dan pembakaran ban di tengah jalan membuat mobilitas logistik terhenti total. Akibatnya:
Stok SPBU Kosong:
Belasan mobil tangki Pertamina yang mengarah ke Luwu Utara dan Luwu Timur terjebak dalam kemacetan panjang selama puluhan jam.
Hukum Pasar Darurat: Karena stok di SPBU resmi habis, warga beralih ke pengecer. Kelangkaan yang ekstrem dimanfaatkan pedagang untuk menaikkan harga hingga empat kali lipat dari harga normal.
Akses Terputus: Tidak hanya BBM, pasokan bahan pangan juga mulai terhambat masuk ke wilayah timur Sulawesi Selatan.
Tuntutan Provinsi Luwu Raya
Aksi “Lockdown Luwu Raya” ini merupakan bentuk protes keras masyarakat terhadap Pemerintah Pusat. Bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL), massa mendesak pencabutan moratorium pemekaran wilayah agar Provinsi Luwu Raya segera terbentuk.
Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas masih terpantau lumpuh di titik-titik blokade utama. Meski pihak kepolisian terus melakukan negosiasi, massa tetap bertahan dengan tuntutan mereka. Pengendara yang terjebak diimbau untuk mencari tempat istirahat yang aman dan menghemat penggunaan bahan bakar hingga jalur dibuka kembali.(***)











