Home / Uncategorized

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 14:03 WIB

Palopo Diguncang Polemik SP2D: Ketika Niat Baik Kebijakan Berbentur Aturan Hukum

PALOPO, PAMORNEWS —Langkah Wali Kota Palopo untuk ‘menertibkan’ birokrasi keuangan daerah justru memicu kegaduhan. Sebuah Surat Edaran (SE) terkait mekanisme penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) menuai badai kritik dari gedung legislatif, yang menuding kebijakan sentralisasi dana ini sebagai langkah terburu-buru, minim kajian, dan berpotensi melanggar hukum di atasnya.

​Polemik ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan cerminan ketegangan antara niat untuk mengendalikan anggaran versus kepatuhan pada hierarki peraturan perundang-undangan.

​Sentralisasi yang Digugat Legislatif

​Isu ini mencuat ke permukaan setelah Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Palopo dari Fraksi Golkar, Muh. Bastam, melancarkan sindiran tajam. Bastam menilai SE Wali Kota tersebut ibarat ‘membuat aturan baru di atas aturan yang sudah jelas’.

​Menurutnya, mekanisme pengelolaan keuangan daerah—mulai dari pengajuan hingga pencairan—telah diatur secara berlapis dalam berbagai payung hukum, termasuk UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Permendagri Nomor 77 Tahun 2020.

​“Pengelolaan keuangan daerah tidak cukup dengan niat baik. Harus ada dasar aturan dan output yang jelas,” tegas Bastam, Jumat

​Inti kegaduhan terletak pada dugaan bahwa SE ini berupaya menyentralisasi atau menambah prosedur dalam penerbitan SP2D. Padahal, sesuai regulasi, penerbitan SPM (Surat Perintah Membayar) cukup dilakukan oleh pengguna anggaran di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), sementara SP2D menjadi kewenangan Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) atau Kuasa Bendahara Umum Daerah (BUD).

Baca juga  Gedung Baru DPRD Palopo: Dari Kebanggaan Daerah Menjadi Sorotan Jaksa

​“Prosedur penerbitan SPM itu cukup dilakukan oleh pengguna anggaran di tiap SKPD… Jadi, untuk apa lagi dibuat aturan baru?” — Muh. Bastam.

​Kekeliruan di Mata Hukum dan Tata Naskah Dinas

​Kritik Bastam tidak hanya menyentuh substansi, tetapi juga formalitas. Ia menyoroti kesalahan penulisan kata dalam surat edaran itu sendiri—menulis “pencarian” alih-alih “pencairan” dana—sebagai indikasi dari sebuah kebijakan yang digarap tergesa-gesa.

​Secara hukum, Bastam menilai Wali Kota keliru memahami kedudukan surat edaran. Mengacu pada Permendagri Nomor 1 Tahun 2023 tentang Tata Naskah Dinas, sebuah surat edaran hanyalah pedoman internal.

​“Kalau mau tertib administrasi, pahami dulu tata naskah dinas. Jangan sampai surat edaran justru menabrak aturan yang ingin ditegakkan,” ujarnya.

Surat edaran, lanjutnya, tidak boleh menyimpang, menambah, atau mengubah substansi dari peraturan yang lebih tinggi. Upaya menertibkan administrasi justru berpotensi besar melanggar hierarki hukum.

​Fokus Kebijakan yang Keliru

​Selain kritik hukum dan teknis, Bastam juga menyampaikan sindiran keras mengenai prioritas kepemimpinan. Menurutnya, energi kepala daerah dan tim hukumnya kini terbuang untuk mengurusi hal-hal teknis yang sudah jelas pendelegasian kewenangannya, alih-alih fokus pada isu yang lebih mendesak dan substansial bagi masyarakat.

Baca juga  Semangat Kemenangan di Bekas Warung Miras: Kisah Aiptu Jacky Melawan Judi dan Miras dengan Buku

​“Masih banyak yang lebih penting untuk dipikirkan kepala daerah, ketimbang mengurusi hal yang sudah jelas pendelegasian kewenangannya,” pungkas Bastam, mengingatkan pentingnya fokus pada pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial.

​Pemerintah Diam, Kontroversi Menguat

​Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota Palopo belum memberikan klarifikasi resmi terkait polemik sentralisasi pencairan dana SP2D ini.

​Sikap diam ini justru memperkuat kesan di kalangan legislatif bahwa kebijakan ini sarat kontroversi dan minim kajian hukum yang matang. Di internal DPRD, sikap anggota pun terbelah, meski mayoritas memilih menahan diri dan menunggu penjelasan resmi dari pihak eksekutif.

​Buntu komunikasi dan penolakan terang-terangan dari anggota legislatif ini mengindikasikan bahwa polemik SP2D bukan hanya sekadar konflik teknis administrasi, melainkan awal dari ketegangan politik yang dapat menghambat efektivitas birokrasi Palopo ke depan.

Tanpa adanya klarifikasi hukum yang kuat dan memadai, surat edaran ini berpotensi menjadi “bom waktu” yang memperlambat laju pembangunan daerah.(***)

Share :

Baca Juga

pic.detik.com

Uncategorized

Sekda Palopo Benarkan Tagihan Inkrah Lahan Terminal dan Pasar Sentral

Uncategorized

Fokus di Pendidikan, Gubernur Sulteng Apresiasi Kinerja Iksan-Iriane di Morowali

Uncategorized

Merobek Tirai Kekerasan untuk Melihat Akar Keputusasaan

Uncategorized

Taptu dan Pawai Obor: Palopo Menyala dalam Semangat Kemerdekaan ke-80 RI

Uncategorized

KONI MOROWALI SIAP GELAR PORKAB 2025 DAN PORPROV 2026, BUPATI DUKUNG PENUH PERSIAPAN

Uncategorized

Menakar Kesungguhan Toraja: Rekomendasi Politik sebagai “Harga Mati” Provinsi Luwu Raya
Pemkot Palopo Harap APPERNAS Jaya Bersinergi Membangun Rumah Representativ dan Terjangkau

Uncategorized

Pemkot Palopo Harap APPERNAS Jaya Bersinergi Membangun Rumah Representativ dan Terjangkau

Uncategorized

Kebocoran Minyak PT Vale di Towuti, Disorot Komite II DPD RI