Home / Uncategorized

Selasa, 27 Januari 2026 - 05:44 WIB

Meski Ada Putusan MK, Wartawan Masih Berpotensi Dipanggil Aparat: Hak Tolak Jadi Pertaruhan

Meski Ada Putusan MK, Wartawan Masih Berpotensi Dipanggil Aparat: Hak Tolak Jadi Pertaruhan

Meski Ada Putusan MK, Wartawan Masih Berpotensi Dipanggil Aparat: Hak Tolak Jadi Pertaruhan

​JAKARTA – Kebebasan pers di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah munculnya diskusi mengenai posisi hukum wartawan di hadapan penyidik kepolisian maupun kejaksaan.

Meskipun Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan putusan yang memperkuat perlindungan jurnalis, dalam praktiknya, aparat penegak hukum masih tetap bisa melayangkan pemanggilan terhadap awak media.

​Benturan UU Pers dan KUHAP
​Pemicu utama tetap dipanggilnya wartawan adalah adanya irisan antara Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Di satu sisi, UU Pers memberikan “Hak Tolak” kepada jurnalis untuk melindungi kerahasiaan narasumber.

Di sisi lain, KUHAP mewajibkan setiap warga negara yang dianggap mengetahui suatu peristiwa pidana untuk hadir sebagai saksi.
​Putusan MK memang memberikan jaminan perlindungan terhadap kemerdekaan pers sebagai hak asasi warga negara.

Baca juga  Tangan Dingin di Balik Anggaran: Menelisik Denting Harapan Palopo pada Indeks Keuangan Daerah

Namun, putusan tersebut tidak serta merta membuat wartawan kebal hukum (absolute immunity).
Aparat tetap memiliki kewenangan memanggil wartawan jika keterangannya dianggap krusial untuk mengungkap sebuah tindak pidana yang tidak terkait dengan rahasia jurnalistik.

​Mekanisme Nota Kesepahaman (MoU)
​Untuk meminimalisir potensi kriminalisasi, Dewan Pers sebenarnya telah memiliki Nota Kesepahaman (MoU) dengan Polri dan Kejaksaan Agung.

Dalam perjanjian tersebut, disepakati bahwa setiap pengaduan terkait karya jurnalistik harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Dewan Pers untuk dinilai dari sisi kode etik.

​”Aparat harus menghormati mekanisme di Dewan Pers sebelum melakukan pemanggilan paksa. Jika terkait dengan sumber berita, wartawan tetap memiliki hak konstitusional untuk diam,” ujar seorang praktisi hukum pers dalam diskusi terkait.

Baca juga  Membidik Ketaatan: Kenapa Usaha Biliar di Palopo Kini Jadi Sorotan Utama DPMPTSP

​Pentingnya Edukasi Jurnalis
​Para ahli hukum menyarankan agar wartawan yang menerima surat panggilan tetap bersikap kooperatif namun tegas. Wartawan diimbau untuk hadir memenuhi panggilan dengan didampingi kuasa hukum atau perwakilan organisasi pers, namun tetap konsisten menggunakan Hak Tolak saat pertanyaan penyidik mulai memasuki wilayah privasi narasumber yang dilindungi.

​Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menyelaraskan prosedur hukum acara dengan hak-hak istimewa profesi jurnalis di lapangan.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Pengurusan Paspor Kini Buka di Imigrasi Banggai

Uncategorized

Pj. Wali Kota Palopo, Hadiri Zikir Bersama Hari Jadi Kota Palopo Ke-22

Uncategorized

Kapolres Morowali Gelar Silaturahmi Idul Fitri 1446 H di Kediaman Bupati
Investasi Kawasan Industri: Dilema Pertumbuhan dan Kedaulatan Ekonomi Lokal

Uncategorized

Investasi Kawasan Industri: Dilema Pertumbuhan dan Kedaulatan Ekonomi Lokal
Bupati Iksan Dorong Kebangkitan UMKM Morowali, Targetkan Etalase Khusus di Tahun 2027

Uncategorized

Bupati Iksan Dorong Kebangkitan UMKM Morowali, Targetkan Etalase Khusus di Tahun 2027

Uncategorized

Implementasi KUHP Baru 2026: Ardiansyah Ingatkan Memori Kelam “Pasal Karet” dan Ancaman Demokrasi

Uncategorized

Reaktualisasi Nilai Adat Mappacci: Jembatan Kearifan Lokal Menuju Keluarga Modern Berkarakter

Uncategorized

Sidak RSUD Malam-Malam, Bupati Iksan Fokus Perbaikan Fasilitas