PALOPO — Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Palopo memang telah usai dengan penetapan Wali Kota dan Wakil Wali Kota terpilih. Namun, sangat disayangkan, momentum ini masih menyisakan “perang” di kalangan eks pendukung calon. Fenomena saling caci dan pembukaan aib pribadi di media sosial atau forum-forum publik sungguh memprihatinkan dan mencederai semangat demokrasi yang seharusnya membawa kedewasaan berpolitik.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada individu yang terlibat, tetapi juga berpotensi menghambat pembangunan dan kemajuan Kota Palopo secara keseluruhan. Energi yang seharusnya difokuskan untuk mendukung kepemimpinan baru dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan, justru terkuras untuk perselisihan yang tidak produktif.
Pentingnya Kedewasaan Berdemokrasi
Meskipun berbeda pilihan politik, pasca-pemilu adalah saatnya untuk kembali bersatu sebagai warga Palopo. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun permusuhan dan saling menjatuhkan bukanlah bagian dari nilai-nilai luhur yang kita junjung.
Sekedar pengingat; Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk tidak menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, atau informasi pribadi yang dapat memicu konflik.
Alihkan energi untuk mengawal dan mendukung program-program pembangunan yang akan dijalankan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota terpilih. Berikan masukan konstruktif dan kritisi yang membangun.
Membangun kembali silaturahmi. Mendorong dialog dan pertemuan antarkelompok masyarakat untuk menjalin kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat terputus selama masa kampanye.
Peran tokoh masyarakat dan agama: memiliki peran penting dalam menyerukan perdamaian, persatuan, dan rekonsiliasi kepada masyarakat.
Sejatinya pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang baru menjadi awal baru bagi Palopo untuk bergerak maju. Mari kita tinggalkan perbedaan dan fokus pada tujuan bersama: membangun Palopo yang lebih baik, sejahtera, dan harmonis untuk semua warganya.(***)








