Home / Uncategorized

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:48 WIB

Jurnalisme yang Tergadai di Tambang

​Oleh: Achyar Amir

​DALAM teori pers, jurnalisme sering disebut sebagai “anjing penjaga” (watchdog) yang bertugas menggonggong saat ada ketidakberesan. Namun, di daerah-daerah yang denyut ekonominya dikuasai oleh industri ekstraktif, suara gonggongan itu perlahan mulai lirih, bahkan berubah menjadi dengkur kenyamanan. Fenomena ini kian nyata dalam apa yang mulai disebut banyak pihak sebagai “Jurnalisme Tambang”.

​Istilah “tergadai” menjadi sangat relevan di sini. Ketika sebuah institusi media mulai menggantungkan nafas ekonominya pada kontrak-kontrak iklan atau kerja sama kemitraan dari perusahaan tambang, maka pada saat itulah independensi redaksi sedang dijadikan agunan.

​Simbiosis yang Mematikan Nalar

Pola relasi yang dibangun korporasi tambang seringkali sangat rapi. Mereka tidak lagi hanya bicara soal iklan produk, tetapi merambah ke wilayah “pembinaan” mentalitas jurnalis melalui berbagai pelatihan, forum edukasi, hingga perjalanan lapangan yang dibalut fasilitas mewah.

​Dampaknya sangat halus namun mematikan. Muncul rasa “ewuh pakewuh” atau sungkan dari pihak redaksi. Akibatnya, berita-berita kritis mengenai kerusakan ekosistem, pencemaran sungai, hingga konflik agraria yang menindas warga lokal, pelan-pelan menghilang dari halaman utama.

Baca juga  Pemkab Morowali Giatkan Gerakan Nasional Sadar Tertib Arsip (GNSTA)

Ruang publik kemudian dipenuhi oleh narasi tunggal: klaim kesuksesan investasi, seremoni CSR, dan deretan angka pertumbuhan ekonomi yang seringkali tidak dirasakan langsung oleh masyarakat di pinggiran tambang.

​Masyarakat: Pihak yang Paling Merugi

Ketika jurnalisme telah tergadai, masyarakat adalah pihak yang paling dikhianati. Media yang seharusnya menjadi alat advokasi bagi warga yang kehilangan ruang hidupnya, justru beralih fungsi menjadi mesin pemoles citra (public relations) korporasi.

​Masyarakat yang mengadu soal debu yang menyesakkan atau air bersih yang tak lagi jernih, mendapati keluhan mereka tumpul di ujung pena wartawan yang sudah “terikat” kepentingan. Informasi yang berimbang menjadi barang mewah, dan publik dipaksa mengonsumsi narasi yang sudah disaring sedemikian rupa agar tidak mengganggu kenyamanan investor.

Baca juga  Kerugian Negara Rp1,2 Miliar: Kisah Incinerator RSUD Sawerigading Palopo yang Terbengkalai dan Diselidiki Kejaksaan

​Memutus Rantai Ketergantungan

Kita tentu menyadari bahwa media membutuhkan biaya untuk bertahan hidup, apalagi di tengah tantangan ekonomi digital yang berat. Namun, menjadikan independensi sebagai komoditas yang bisa digadaikan adalah sebuah langkah bunuh diri profesi.

Sekali kepercayaan publik hilang karena media dianggap sebagai “corong” tambang, maka nilai tawar media tersebut di mata sejarah akan runtuh.

​Pers harus tetap menjaga jarak aman. Kedekatan profesional dengan sumber berita—termasuk korporasi—tidak boleh menghapus kewajiban untuk melakukan verifikasi dan kontrol sosial.

​Jangan sampai sejarah mencatat bahwa di tengah hiruk-pikuk eksploitasi kekayaan alam, jurnalisme justru ikut terkubur dalam lubang-lubang tambang, kehilangan suaranya karena sudah terlalu nyaman dalam sangkar emas kemitraan. Mengembalikan jurnalisme dari “gadaian” korporasi adalah tugas mendesak bagi kita semua yang masih meyakini bahwa pers adalah pelayan publik, bukan pelayan modal.(***)

 

Share :

Baca Juga

Direktur RSUD I Lagaligo Minta Maaf atas Kekurangan Pelayanan

Uncategorized

Direktur RSUD I Lagaligo Minta Maaf atas Kekurangan Pelayanan

Uncategorized

Akses Jalan Rusak Menuju TPI Palopo Dikeluhkan Warga, Retribusi Malah Naik 

Uncategorized

Dampak Polusi Industri Nikel Morowali

Uncategorized

Pemkab Morowali Jamu Makan Siang Pangdam XXIII/Palaka Wira

Uncategorized

Dinkes Sulteng dan Pemkab Morowali Perkuat Pembudayaan Hidup Sehat Melalui GERMAS

Uncategorized

Perkuat Aspirasi Rakyat, Anggota DPRD Luwu Nyatakan Dukungan Penuh Pembentukan Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya

Uncategorized

Pemkot Palopo Gelar Job Fair 2024

Uncategorized

Giat Seminar Parenting di Merdeka Convention Hall (MCH)