LUWU — Sungai Suso di Bajo Barat, Luwu, tak pernah benar-benar tidur. Di balik alirannya yang keruh, tersimpan urat nadi emas yang membuat kawasan ini selalu menjadi medan perebutan.
Setiap kali satu pemodal tumbang, pemodal baru segera lahir mengisi ruang kosong.
Pola itulah yang kembali berulang.
Pamor H. Mare—pengusaha asal Sidenreng Rappang (Sidrap) yang sempat menghebohkan publik setelah berhasil mengeruk 38 kilogram emas hanya dalam hitungan bulan—kini meredup.
Pasca-hengkang dan menarik seluruh unit usahanya dari Bajo Barat, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Sungai Suso sempat mereda.
Rumor kepulangannya untuk melakukan comeback memang santer berembus, namun di lapangan, gerakannya masih sebatas ancang-ancang dan konsolidasi.
Jeda kekuasaan itu tidak berlangsung lama. Di saat jejak H. Mare memudar, satu nama baru melesat kencang di lingkaran penambang: H. Hartono.
Babak Baru: Dari Lobi ke Jalur Nekat
Kemunculan H. Hartono menandai fase berbeda dalam peta hitam PETI di Sungai Suso.
Soal kekuatan finansial, ia dinilai tak kalah tajir dibanding H. Mare.
Namun, ada latar belakang yang kontras. H. Hartono bukan berasal dari kalangan pengusaha tambang konvensional.
Ia disebut-sebut sebagai figur berlatar belakang intelektual dari salah satu perguruan tinggi ternama di Sulawesi Selatan, yang menggunakan kapasitas akademisnya untuk merancang struktur dan kekuatan baru di Bajo Barat.
Perbedaan paling fundamental terletak pada strategi operasionalnya:
Pola H. Mare: Mengandalkan cara-cara lama, yakni mengamankan roda operasi lewat jalur koordinasi berjenjang dengan Aparat Penegak Hukum (APH), mulai dari tingkat daerah hingga pusat.
Pola H. Hartono: Menempuh jalur ekstrem. Ia secara terbuka menolak sistem koordinasi konvensional tersebut—tanpa ruang kompromi dan tanpa uang setoran pengamanan.
Gaya “tutup pintu” ini menjadi pembeda sekaligus bom waktu bagi lini bisnisnya.
Tanpa Payung, Kaki Tangan Jadi Sasaran
Dalam ekosistem shadow economy pertambangan ilegal, payung koordinasi adalah benteng pertahanan.
Tanpa instrumen pengaman itu, rantai operasional menjadi sangat rapuh.
Jurus mandiri tanpa kompromi yang dipilih H. Hartono dengan cepat berbalik menjadi bumerang.
Langkah senyap kepolisian mulai membidik simpul-simpul penggerak di sepanjang aliran Sungai Suso.
Buntutnya pun mulai terlihat nyata: salah satu orang kepercayaan sekaligus kaki tangannya di lapangan, H. Wawan, dilaporkan telah menjadi sasaran dalam operasi penindakan aparat.
Kini, teka-teki besar menggantung di balik layar: siapa sosok atau kekuatan yang mendampingi dan memberi keberanian bagi H. Hartono untuk secara frontal menantang “aturan main” informal yang selama ini dianggap pakem di wilayah tambang?
Satu hal yang pasti, pasca-era H. Mare, kehadiran H. Hartono kembali menyeret Bajo Barat ke dalam pusaran konflik kepentingan, adu modal, dan ketegangan hukum.
Sungai Suso terus mengalir membawa endapan emasnya, sementara para pemainnya terus berganti.(***/red)
#PetiBajoBarat
#KanalAkhmadBaso
#Pamornews









