PALOPO, PAMORNEWS — NAMA M. Luthfi Andi Mutti adalah resonansi kuat di telinga masyarakat Luwu Raya. Ia bukan sekadar politisi; ia adalah figur sentral yang jejak karirnya membentang dari ranah lokal hingga pusat kekuasaan tertinggi. Dari Bupati Luwu Utara, Anggota DPR RI, hingga Komisaris BUMN Nasional dan bahkan Staf Ahli Wakil Presiden di era Boediono—daftar jabatannya benar-benar mengesankan.
Sebuah rekam jejak yang menjadikannya sosok yang dihormati dan disegani, gambaran akan kapabilitas dan kepercayaan yang ia peroleh.
Namun, yang membuat sosok Luthfi begitu magnetis, terutama bagi generasi muda Luwu Raya , bukan hanya gelimang jabatan. Jauh sebelum kancah politiknya di tingkat nasional, ia sudah menjadi idola anak muda. Siapa yang tak kenal karismanya saat menjabat Ketua KNPI Luwu ? “Ganteng, cerdas, dan humoris,” begitu kenang mereka yang mengenalnya. Aura positif dan kecerdasan yang selalu menggelitik itulah yang menjadi ciri khasnya, karisma yang tak lekang oleh waktu, bahkan kini setelah ia menjadi kakek dari beberapa orang cucu.
Kesederhanaan di Warung Emperan Toko
Tahun lalu, sebuah pertemuan tak terduga menjadi penegas akan kesederhanaan yang abadi dari beliau. Pagi itu, selepas dia jogging dan saya selesai bersepeda , jalur takdir membawa kami ke sebuah tempat yang sangat merakyat: penjual bubur ayam di emperan toko di Jalan Andi Jemma, Palopo. Dan di sana, di tengah hiruk pikuk pagi yang mulai ramai, saya melihatnya: M. Luthfi Andi Mutti.
Lupakan titel mentereng dan hirarki birokrasi.
Sosok yang saya temui di pinggir jalan itu adalah sosok yang sama seperti yang diceritakan banyak orang:
Sederhana dalam penampilan.
Merokok santai, menikmati pagi tanpa terbebani formalitas.
Dan yang tak pernah absen, gelitik celutukannya yang spontan dan jenaka.
Di warung bubur ayam itu, ia tetap menjadi dirinya sendiri—humoris, hangat, dan membumi. Interaksi singkat kami di sana adalah konfirmasi nyata: jabatan tak mengubah esensinya. Ia adalah gambaran pemimpin yang tak kehilangan kontak dengan akarnya, yang tetap dekat dengan denyut nadi rakyat. Dan tentu saja, yang paling khas dari semua itu: ia tetap suka mentraktir jika bertemu di tempat makan, sebuah gestur kecil yang menunjukkan kemurahan hati dan kehangatan yang tak pernah berubah.
Pertemuan tak terduga itu, dengan asap rokok mengepul dan tawa renyah yang bersanding dengan semangkuk bubur ayam, menegaskan bahwa di balik segala titel dan posisi prestisius, M. Luthfi Andi Mutti adalah karisma yang tak perlu panggung besar untuk bersinar. Cukuplah di emperan toko, di antara rakyatnya, untuk menunjukkan siapa dirinya: seorang pemimpin yang membumi, cerdas, dan selalu siap berbagi kehangatan dan tawa.(***)










