PALU, PAMORNEWS – Sulawesi Tengah kini menyandang predikat yang kurang menguntungkan di sektor konstruksi.

Provinsi ini tercatat sebagai wilayah dengan rata-rata upah tukang harian terendah secara nasional, jauh di bawah rata-rata upah pekerja konstruksi di provinsi lain, bahkan dari tetangga di Pulau Sulawesi.
Hal ini terungkap dalam publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Indikator Konstruksi Triwulan II-2025.
Jauh di Bawah Rata-Rata Nasional
BPS mencatat, rata-rata upah tukang harian di Sulawesi Tengah hanya berkisar Rp 100 ribu per hari.
Angka ini terlampau jauh di bawah rata-rata upah tukang harian nasional yang pada periode Triwulan II-2025 mencapai Rp 140 ribu per hari. Artinya, upah di Sulteng hanya sekitar 71% dari rata-rata nasional.
Ironisnya, upah harian ini juga lebih rendah jika dibandingkan dengan provinsi tetangga di Sulawesi. Tukang di Sulawesi Selatan rata-rata mengantongi Rp 130 ribu per hari, sementara di Sulawesi Tenggara dan Gorontalo upahnya sedikit lebih tinggi, yakni Rp 135 ribu per hari. Perbandingan ini menunjukkan adanya disparitas signifikan di internal Pulau Sulawesi sendiri, dengan Sulteng berada di posisi terbawah.
Pekerja Jakarta Kantongi Upah Tertinggi
Di sisi lain spektrum, provinsi dengan upah tukang harian tertinggi di Indonesia ditempati oleh DKI Jakarta. Ibu Kota tercatat memiliki rata-rata upah harian sebesar Rp 165 ribu.
Selisih upah antara Jakarta dan Sulawesi Tengah mencapai Rp 65 ribu per hari, atau tukang di Jakarta mendapat 65% lebih tinggi dari rekannya di Sulteng.
Selain DKI Jakarta, ada tiga provinsi lain yang juga menempati jajaran atas dengan rata-rata upah harian mencapai Rp 160 ribu per hari, yaitu Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, dan Maluku Utara.
Data ini secara tidak langsung menggambarkan adanya kesenjangan ekonomi dan daya beli di sektor konstruksi antar-wilayah. Upah harian yang rendah di Sulteng dapat menjadi indikator tantangan dalam standar hidup dan kesejahteraan pekerja konstruksi di daerah tersebut. (***)











