Home / Uncategorized

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 14:02 WIB

Pengusaha Beras Palopo Angkat Bicara: Harga Tertinggi di Sulsel Dipicu Stok Gabah dan Bukan Wewenang Pemkot

PALOPO – Sorotan tajam terhadap Kota Palopo yang disebut-sebut memiliki harga beras tertinggi di Sulawesi Selatan (Sulsel) memicu respons dari pelaku usaha lokal. Abifatur, salah seorang pengusaha beras di Palopo, tampil memberikan pandangan dari kacamata bisnis dan rantai pasok.

​Menurut Abifatur, tingginya harga yang terjadi bukanlah indikasi kegagalan intervensi pemerintah daerah, melainkan cerminan dari dinamika pasar yang lebih luas dan berada di luar kendali Pemkot Palopo.

Ia menegaskan bahwa penentuan harga beras adalah wewenang Pemerintah Pusat.

​Faktor Kunci: Stok Gabah dan Mekanisme Pasar

​Abifatur menjelaskan bahwa harga beras saat ini sangat dipengaruhi oleh tiga variabel utama yang selalu berfluktuasi:

​Harga Dasar Gabah: Harga beli gabah kering panen (GKP) dari petani.

Baca juga  "Totalitas Tanpa Batas": Di Balik Semangat Organik Satgas Kebersihan Kota Palopo

​Rendemen: Hasil olahan gabah menjadi beras.

​Ketersediaan Stok Bahan Baku: Stok gabah kering panen (GKP) di tingkat petani dan penggilingan.

​”Harga tersebut berfluktuasi dari harga dasar gabah dan rendemen serta ketersediaan stok bahan baku atau gabah kering panen di lapangan,” ujar Abifatur.

​Ia menganalogikan situasi ini dengan harga komoditas musiman untuk menggambarkan hukum permintaan dan penawaran (supply and demand).

​”Jika hari ini kita mau beli durian 1 biji mungkin harganya Rp150 ribu, tapi jika musim durian harganya mungkin bisa 3 biji Rp50 ribu.”

​Ilustrasi ini menjelaskan bahwa saat stok gabah sebagai bahan baku minim, biaya yang dikeluarkan pengusaha untuk mendapatkannya menjadi tinggi, yang otomatis mendongkrak harga jual beras ke konsumen.

Baca juga  LOBI CERDAS BUPATI, LUWU UTARA SUKSES AMANKAN 80,96% APBN UNTUK TRANSFORMASI INFRASTRUKTUR JALAN 2025

Sebaliknya, saat panen raya dan stok melimpah, harga cenderung terkoreksi.

​Implikasi bagi Pengusaha dan Konsumen

​Keterangan dari pengusaha beras ini memberikan perspektif bahwa lonjakan harga di Palopo adalah fenomena yang terjadi secara alami dalam rantai pasok pertanian, terutama saat terjadi kelangkaan pasokan atau masa paceklik gabah.

​Para pengusaha beras di Palopo, kata Abifatur, juga harus menghadapi realitas fluktuasi harga gabah di hulu, yang pada akhirnya menentukan berapa harga jual akhir kepada konsumen.

Ia berharap masyarakat memahami bahwa pengusaha beras bergerak mengikuti harga pasar yang diatur oleh ketersediaan bahan baku dan kebijakan harga dari pusat.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Putri Dakka, dari Arena Politik yang Penuh Intrik ke Gemerlap Bisnis Jakarta

Uncategorized

SEJARAH AWAL TERBENTUKNYA ANA’ TELLUE (MALOLO LOMPO) KEDATUAN LUWU

Uncategorized

Marak Penebangan Liar di Kawasan Pegunungan Balandai, Warga Desak Penindakan Tegas

Uncategorized

Menanti Titik Terang di Luwu Tengah

Uncategorized

Wabup Iriane Bertindak Sebagai Inspektur Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025

Uncategorized

Kapolres Morowali Lepas 74 Pemudik Gratis Tahun 2024

Uncategorized

Uncategorized

Sorotan Publik Kasus Seragam Gratis Lutim, Kasi Pidsus Kejari: Penyidikan Masih Berjalan, Saksi Terus Diperiksa