Home / Uncategorized

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:47 WIB

Kritik Kunjungan DPRD ke Bappenas, Afrianto Nurdin: Jangan Cuma Bawa ‘Proposal’ Aspirasi, Tana Luwu Itu Episentrum!

PALOPO – Kunjungan jajaran pimpinan dan anggota DPRD Luwu Utara ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk memperjuangkan Provinsi Luwu Raya memicu tanggapan kritis dari Afrianto Nurdin.
​Ia menilai, lobi-lobi di tingkat pusat tidak akan membuahkan hasil maksimal jika hanya bermodalkan narasi “keinginan rakyat” tanpa dibarengi dengan dokumen kajian teknokratis yang mendalam.
​Afrianto menekankan bahwa Bappenas adalah lembaga yang bekerja berbasis data dan perencanaan makro.
Oleh karena itu, menyodorkan peluang kemandirian fiskal saja tidaklah cukup untuk mengetuk pintu moratorium.
​”Semestinya yang dibawa ke Bappenas itu dokumen kajian posisi strategis Luwu Raya dalam konteks regional. Kita harus bicara seberapa penting Luwu Raya terhadap perekonomian daerah di sekitarnya,” komentar Afrianto via akun medsosnya.
​Potensi Teluk Bone: ‘Trigger’ Ekonomi Sulawesi
​Menurutnya, nilai tawar utama Tana Luwu terletak pada letak geografisnya yang berada di kawasan strategis Teluk Bone. Ia berharap para pengambil kebijakan mulai menggeser narasi perjuangan dari sekadar pemekaran administratif menjadi pembangunan pusat pertumbuhan baru.
​”Bukan cuma soal fiskal atau ekonomi internal. Luwu Raya ini harus diposisikan sebagai episentrum regional yang mampu mentriger daerah lain. Banyak aspek bisa ditelaah dari posisi kita di Teluk Bone,” tambahnya.
​Kewenangan Strategis untuk Percepatan Pembangunan
​Lebih jauh, Afrianto menyoroti bahwa esensi dari pembentukan Provinsi Luwu Raya adalah soal kedaulatan desain kebijakan. Dengan menjadi provinsi, Luwu Raya memiliki kewenangan yang lebih luas untuk mengeksekusi pembangunan tanpa harus terhambat birokrasi yang panjang.
​”Ketika terbentuk provinsi, maka kewenangannya menjadi lebih strategis untuk mendesain kebijakan pembangunan daerah sendiri. Ini soal percepatan,” jelasnya.
​Pesan untuk Pejuang Provinsi
​Afrianto berharap kritik ini menjadi masukan agar kunjungan-kunjungan ke kementerian pusat selanjutnya membawa “amunisi” yang lebih berat, yakni:
​Analisis Dampak Regional: Kontribusi Luwu Raya bagi Sulawesi.
​Kajian Geopolitik: Peran Teluk Bone dalam konektivitas nasional.
​Peta Jalan Teknokratis: Desain percepatan infrastruktur wilayah terpencil.
​”Kita ingin pusat melihat bahwa tanpa Provinsi Luwu Raya, ada potensi ekonomi nasional yang hilang di Teluk Bone,” tutupnya.
Kritik Afrianto ini menjadi alarm bagi para pejuang pembentukan Provinsi Luwu Raya untuk segera membenahi strategi komunikasi dan lobi di tingkat pusat.(***)

Share :

Baca Juga

Percepat Akses Ekonomi, Bupati Luwu Utara Usulkan Perpanjangan Dermaga Pelabuhan Munte 1,4 Km

Uncategorized

Percepat Akses Ekonomi, Bupati Luwu Utara Usulkan Perpanjangan Dermaga Pelabuhan Munte 1,4 Km

Uncategorized

Dari Pengepul Barang Bekas ke Ketua DPRD Morowali KISAH Inspiratif Herdianto Marsuki

Uncategorized

Wabup Morowali Iriane Iliyas Hadiri Rakornas Produk Hukum Daerah 2025 di Kota Kendari

Uncategorized

Menemani Beban Amanah Rakyat: Trisal Tahir, Suami Wali Kota yang Memilih Jadi Sandaran Tulus Tanpa Tanda Jasa

Uncategorized

Sat Lantas Polres Morowali Gelar Pengamanan Shalat Tarawih untuk Jaga Ketertiban Selama Ramadan

Uncategorized

Percepat Penurunan Kemiskinan, Bupati Andi Rahim Perkuat Sinkronisasi Program dengan Bappenas RI

Uncategorized

Gedung Baru DPRD Palopo: Dari Kebanggaan Daerah Menjadi Sorotan Jaksa
Usai Rakernas di Jakarta, Srikandi Palopo "Serbu" Bandung, Lembang Jadi Sasaran Wisata

Uncategorized

Usai Rakernas di Jakarta, Srikandi Palopo “Serbu” Bandung, Lembang Jadi Sasaran Wisata