LUWU TIMUR – Langkah raksasa Andi Syamsuddin Arsyad, atau Haji Isam, dalam merambah potensi nikel di Tana Luwu semakin tak terbendung.

Melalui Jhonlin Group, pengusaha asal Batulicin ini dilaporkan tengah membangun basis kekuatan industri di Kabupaten Luwu Timur, bertepatan dengan masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.
Masuknya jejaring bisnis Haji Isam ke wilayah “Bumi Batara Guru” ini dipandang banyak pihak bukan sekadar ekspansi ekonomi biasa, melainkan cerminan kuatnya kolaborasi antara kekuatan modal nasional dan otoritas pemerintahan daerah.
Proyek Strategis di “Halaman Depan” PT Vale
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa Jhonlin Group mulai menggarap berbagai infrastruktur kunci, termasuk pelabuhan logistik dan ancang-ancang pembangunan smelter nikel.
Pergerakan ini disebut-sebut mulai mengusik dominasi lama PT Vale Indonesia, terutama di tengah isu keberlanjutan kontrak karya dan pengelolaan blok tambang di Luwu Timur.
Dukungan Penuh “Gubernur Andalan”
Fakta bahwa Haji Isam merupakan keluarga dekat dari Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menjadi sorotan utama.
Sebagai gubernur aktif yang menjabat untuk periode 2025–2030, Andi Sudirman dikenal vokal dalam mendorong hilirisasi industri di Sulawesi Selatan.
Kedekatan ini dinilai memberikan “karpet merah” bagi masuknya investasi Jhonlin Group di Luwu Timur.
”Kehadiran investasi berskala besar di era Gubernur Andi Sudirman ini menunjukkan adanya kepercayaan tinggi dari pelaku usaha nasional untuk membangun Sulsel, meski tentu publik akan terus mengawasi aspek transparansinya,” ungkap salah seorang pengamat ekonomi daerah.
Klan Sulaiman dan Masa Depan Industri Nikel
Kekuatan klan Sulaiman tidak hanya berhenti di level provinsi. Dengan dukungan sang kakak, Andi Amran Sulaiman di kabinet nasional, sinergi ini menjadikan masuknya Haji Isam ke sektor nikel Luwu Timur sebagai proyek yang sangat strategis.
Skenario pengambilalihan peran lebih besar di wilayah konsesi tambang pasca-divestasi PT Vale kini bukan lagi sekadar rumor, melainkan rencana yang mulai terukur secara infrastruktur.
Publik kini menanti, apakah kolaborasi ini akan mampu membawa kesejahteraan nyata bagi masyarakat Luwu Timur, ataukah justru hanya akan memusatkan kekayaan sumber daya alam pada satu jejaring lingkaran tertentu.(***)










