Home / Uncategorized

Sabtu, 10 Januari 2026 - 15:26 WIB

Implementasi KUHP Baru 2026: Ardiansyah Ingatkan Memori Kelam “Pasal Karet” dan Ancaman Demokrasi

BALIKPAPAN – Memasuki babak baru hukum pidana nasional per 2 Januari 2026, kekhawatiran mengenai kembalinya era “pasal karet” mencuat dalam diskusi hangat SOTOMI (Sodok Tokoh Minggu Ini), bertempat di Cafe joka 77 ruko bandar, Balikpapan.

Hadir sebagai keynote speaker, Ketua Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Balikpapan, Ardiansyah, memberikan catatan kritis terhadap delik penghinaan penguasa yang kini resmi diadopsi dalam KUHP Nasional.

​Dalam diskusi tersebut, Ardiansyah berbagi refleksi mendalam berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah menjadi korban hukum represif. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia mengungkapkan bahwa dirinya telah empat kali mendekam di sel penjara karena sikap kritisnya terhadap pemerintah.

​”Saya adalah saksi hidup sekaligus korban bagaimana pasal-pasal karet digunakan untuk mengendalikan pelaku politik. Pertama kali di tahun 1963, dan berlanjut hingga masa pemerintahan Soeharto,” ungkap Ardiansyah di hadapan peserta diskusi.

Baca juga  Percepat Akses Ekonomi, Bupati Luwu Utara Usulkan Perpanjangan Dermaga Pelabuhan Munte 1,4 Km

​Kritik vs Penghinaan:

Garis yang Kabur

​Ardiansyah menyoroti bahwa meskipun KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023) mengklaim telah memberikan batasan antara kritik dan penghinaan, realitas di lapangan seringkali berbeda. Ia menilai pasal-pasal terkait penghinaan terhadap Presiden, lembaga negara, dan kekuasaan umum tetap berpotensi menjadi alat pembungkaman.

​”Masalah utamanya adalah subjektivitas. Sangat sulit membedakan mana kritik yang membangun dan mana yang dianggap penghinaan oleh penguasa.

“Pengalaman saya dipenjara berkali-kali di masa lalu membuktikan bahwa hukum material seringkali menjadi alat kekuasaan, bukan alat keadilan,” tegasnya.

​11 Isu Krusial dan Putusan MK yang “Dihidupkan Kembali”

​Dalam paparannya, Ardiansyah juga menyinggung fakta bahwa pasal penyerangan harkat dan martabat Presiden sebenarnya telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) di masa lalu melalui Putusan No. 013-022/PUU-IV/2006. Namun, pasal serupa kini “dihidupkan kembali” dalam KUHP yang baru berlaku tahun ini.

Baca juga  Gelar Bimtek Produk Hukum Daerah dan Desa, Pemdakab Morowali : Pentingnya Sinkronisasi dan Koordinasi

​Setidaknya ada 11 isu sentral yang terus menuai penolakan dari pemangku kepentingan, mulai dari hukum yang hidup di masyarakat (living law), pidana mati, hingga pasal-pasal kesusilaan. Namun, bagi Ardiansyah, delik penghinaan penguasa tetap menjadi yang paling krusial karena menyentuh jantung demokrasi: kebebasan berpendapat.

​Harapan untuk Penegakan Hukum

​Sebagai Ketua PBH Peradi Balikpapan, ia mendesak agar aparat penegak hukum tidak menggunakan KUHP baru ini sebagai sarana kriminalisasi.

​”Kita tidak ingin kembali ke era di mana mahasiswa atau masyarakat takut bersuara karena bayang-bayang penjara. Penegakan hukum di tahun 2026 ini harus benar-benar mengedepankan hak asasi manusia, bukan kepentingan politik sesaat,” tandasnya.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Almarhum Kepala BPBD Kota Palopo Burhan Nurdin , Dimakamkan Sore Ini

Uncategorized

Dugaan Perselingkuhan di Polres Palopo: Oknum Polisi Dilaporkan Rekan Sejawat Usai Anak Temukan Bukti Chat

Uncategorized

Media Siber Garda Terdepan, Ketua DPRD Palopo Dorong SMSI Jadi Duta Investasi Daerah

Uncategorized

Pasca-Mutasi: Dari Asmuradi Budi Hingga Samsil Masih “Bengkalai”

Uncategorized

Sekda Yusman Mahbub Lepas Jalan Santai Kerukunan, Semarakan HAB ke 80 Kemenag RI di Morowali

Uncategorized

Polres Morowali Gelar Patroli Kota Presisi, Cegah Premanisme Demi Jaga Iklim Investasi yang Kondusif
Capai Progres Signifikan dengan Konstruksi 80 Persen, PT Vale IGP Morowali Tegaskan Komitmen Kontribusi Ekonomi dan Keberlanjutan Daerah

Uncategorized

Capai Progres Signifikan dengan Konstruksi 80 Persen, PT Vale IGP Morowali Tegaskan Komitmen Kontribusi Ekonomi dan Keberlanjutan Daerah

Uncategorized

Polresta Balikpapan Gencarkan Program ‘Police Go To School’ di SMPN 3, Perkuat Benteng Cegah Kenakalan Remaja