Home / Uncategorized

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:50 WIB

Kerendahan Hati di Balik Riuh Proyek Raksasa: Saat Sultan Kutai Memilih “Kursi Belakang”

​BALIKPAPAN – Di tengah deru mesin dan kemegahan proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, sebuah momen sunyi namun penuh makna mencuri perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Bukan soal angka produksi atau teknologi kilang, melainkan tentang sebuah kursi di barisan belakang.
​Senin, 12 Januari 2026, suasana gedung peresmian dipenuhi pejabat tinggi. Jas rapi dan seragam dinas mendominasi barisan depan.
Namun, saat Presiden Prabowo mulai membacakan daftar tamu kehormatan, matanya menyisir ruangan, mencari sosok pemangku adat tertinggi di tanah Kutai.
“Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin. Hadir?” tanya Presiden.
​Kamera seketika berputar, melewati barisan kursi VIP terdepan, terus ke tengah, hingga menemukan sosok bersahaja berbaju batik gelap dengan penutup kepala khas Kesultanan Kutai.
Sultan Aji Muhammad Arifin berdiri dari kursinya di barisan yang jauh dari panggung utama. Beliau menunduk takzim, memberi hormat dengan ketenangan seorang raja yang tak butuh pengakuan posisi.
​Keheranan sempat melintas di wajah Presiden. “Oh… Yang Mulia,” ucap Prabowo pelan, nada suaranya berubah dari otoritatif menjadi penuh hormat.
Ada jeda singkat yang terasa magis; sebuah pengakuan bahwa kehormatan sejati tidak ditentukan oleh seberapa dekat seseorang duduk dengan kekuasaan.
​Di era di mana banyak orang berebut barisan depan demi sorotan kamera, pilihan Sultan Aji Muhammad Arifin untuk duduk “di belakang” menjadi oase kerendahan hati (andhap asor).
Bagi masyarakat Kalimantan Timur, ini bukan sekadar masalah teknis protokoler, melainkan simbol filosofis: bahwa seorang pemimpin sejati adalah ia yang merasa nyaman berada di tengah-tengah rakyatnya, bukan yang selalu ingin mendongak di depan.
​Menjaga Adat di Tengah Modernitas
​Kehadiran Sang Sultan di peresmian kilang minyak terbesar ini adalah simbol restu bumi etam terhadap kemajuan zaman.
Namun, sikap duduknya adalah pengingat bahwa setinggi apa pun teknologi yang dibangun (RDMP), nilai-nilai adab dan kesantunan lokal tetaplah fondasi yang tak boleh runtuh.
Presiden Prabowo, yang dikenal sangat menghargai sejarah dan tradisi, tampak terkesan. Momen
“Sultan di belakang” ini seolah mencairkan suasana kaku birokrasi, memberikan pelajaran berharga bagi semua yang hadir: bahwa pangkat dan gelar hanyalah titipan, namun kerendahan hati adalah keagungan yang abadi.
​Hari itu, RDMP Balikpapan resmi beroperasi untuk kedaulatan energi bangsa. Namun bagi mereka yang menyaksikan, ada “energi” lain yang dibawa pulang—energi keteladanan dari seorang Sultan yang memilih teduh dalam kesederhanaan.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

ASN Pemkot Palopo Bisa Kerja dari Rumah Jelang Nyepi dan Usai Lebaran 2026, Ini Jadwalnya

Uncategorized

Harmoni di Tana Luwu: Ketika Budaya Lokal Dihargai Sekolah Perantau

Uncategorized

Sinergi Tanpa Sekat: Andi Zulkarnaen, Sosok Humble yang Jadi “Sahabat” Wartawan di Kominfo Luwu Utara

Uncategorized

Jebakan Terminologi ‘Air Pegunungan’: Kontroversi Sumber Air AQUA yang Terkuak Lewat Sumur Bor

Uncategorized

Dari Pengepul Barang Bekas ke Ketua DPRD Morowali KISAH Inspiratif Herdianto Marsuki

Uncategorized

Dari Tolada untuk Muhammadiyah: Benih-benih Pemimpin Berkemajuan Telah Bersemi

Uncategorized

Bupati Morowali Tekankan Kesiapan Total Jelang Porprov 6 Desember

Uncategorized

Astamanga Azis Dipercaya Jadi Jubir FKJ