Home / Uncategorized

Senin, 26 Januari 2026 - 15:05 WIB

Meneladani Takhta Nurani La Patiradja Datu Kamanre

[​Mengalah demi Marwah]:

Oleh : hABe

​PALOPO — Di tanah Luwu, tempat sejarah berkelindan dengan mitos dan kehormatan, kepemimpinan bukanlah soal siapa yang paling keras suaranya atau siapa yang paling megah mahkotanya

Sebuah refleksi mendalam muncul di momen peringatan Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu tahun 2026 ini, mengingatkan kita kembali pada sosok La Patiradja Datu Kamanre.
Seorang pemimpin yang mengajarkan bahwa puncak tertinggi kekuasaan adalah kemampuan untuk melepaskannya.
​Takhta Bukan Sekadar Warisan

Bagi sebagian orang, kekuasaan adalah warisan yang harus dipertahankan dengan segala cara. Namun, bagi La Patiradja, takhta hanyalah titipan yang bisa luruh kapan saja. Sejarah (dan puisi yang menggugah hati) mencatat bahwa beliau tidak ditempa oleh emas mahkota, melainkan oleh keberanian menjaga kebenaran.

Keberanian seorang Datu tidak diukur dari tajamnya keris di tangan, melainkan dari keteguhan berdiri di hadapan ancaman demi keselamatan rakyat. Ia adalah tipe pemimpin yang memiliki “telinga batin”—mampu mendengar jerit yang tak terucap dan membaca luka di wajah rakyatnya.
​Tabu yang Menjaga Martabat

Baca juga  Inspektorat Luwu Buru Dokumen Terkait Temuan BPK Rp12,6 Miliar

​Salah satu sisi paling heroik dari filosofi La Patiradja adalah penolakannya terhadap pertumpahan darah sesama saudara. Dalam tradisi yang menjunjung tinggi harga diri, Sigajang Laleng Lipa atau tarung sarung sering kali dianggap sebagai jalan terakhir penyelesaian sengketa.

Namun bagi sang Datu, bertarung melawan saudara demi ambisi pribadi adalah sebuah kehinaan.
​Ia memilih jalan yang sunyi namun mulia: Mengalah.

Bagi jiwa yang kerdil, mengalah dianggap sebagai tanda kelemahan. Namun bagi La Patiradja, mengalah adalah manifestasi dari kedaulatan diri. Ia paham betul bahwa takhta yang dipaksakan dengan ego hanya akan berujung pada keruntuhan yang memalukan.

Baca juga  Rapat Paripurna DPRD Morowali Terkait Ranperda APBD 2026

​”Datu lebih memilih kehilangan takhta daripada harus menghilangkan nyawa saudaranya sendiri.
Sebab baginya, persaudaraan adalah kehormatan.”
​Warisan untuk Masa Depan

Hikmah dari p​esan yang tersirat ini, menjadi teguran bagi dinamika kepemimpinan modern. Di tengah dunia yang sering kali menghalalkan segala cara demi posisi.
Nilai-nilai La Patiradja mengingatkan kita bahwa:
​Kekuasaan adalah jalan pengabdian, bukan pemuas nafsu.

​Martabat tidak bisa diwariskan, ia harus dijaga dengan perilaku.
​Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menahan diri dari keserakahan.
​La Patiradja Datu Kamanre telah menanamkan benih kearifan bahwa seorang pemimpin sejati adalah ia yang selesai dengan dirinya sendiri.

Ia yang lebih mencintai rakyat dan saudaranya daripada kursinya. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa lama seseorang berkuasa, tetapi bagaimana ia menjaga kehormatan saat kekuasaan itu diuji.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1446 Hijriah

Uncategorized

Pengurusan Paspor Kini Buka di Imigrasi Banggai

Uncategorized

Polres Morowali Bagikan Takjil kepada Pengendara di Hari Ketiga Ramadan

Uncategorized

Masjid Negara IKN Siap Digunakan untuk Ramadan 1447 H

Uncategorized

Bupati Kutim: Transformasi Pendidikan Kunci Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Uncategorized

BCA KCP Morowali Resmi Beroperasi, Bupati Iksan: Langkah Strategis Dorong Perekonomian Daerah

Uncategorized

Menteri Investasi dan Hilirisasi Apresiasi Kinerja Bea Cukai Morowali dalam Mendukung Operasional PT Bahodopie Nickel Smelting Indonesia

Uncategorized

Gebyar PAUD Semarakkan HUT Morowali ke-26, Bupati dan Wakil Bupati Hadiri Acara Meriah di Alun-Alun Rujab