[Mengalah demi Marwah]:
Oleh : hABe
PALOPO — Di tanah Luwu, tempat sejarah berkelindan dengan mitos dan kehormatan, kepemimpinan bukanlah soal siapa yang paling keras suaranya atau siapa yang paling megah mahkotanya
Sebuah refleksi mendalam muncul di momen peringatan Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu tahun 2026 ini, mengingatkan kita kembali pada sosok La Patiradja Datu Kamanre.
Seorang pemimpin yang mengajarkan bahwa puncak tertinggi kekuasaan adalah kemampuan untuk melepaskannya.
Takhta Bukan Sekadar Warisan
Bagi sebagian orang, kekuasaan adalah warisan yang harus dipertahankan dengan segala cara. Namun, bagi La Patiradja, takhta hanyalah titipan yang bisa luruh kapan saja. Sejarah (dan puisi yang menggugah hati) mencatat bahwa beliau tidak ditempa oleh emas mahkota, melainkan oleh keberanian menjaga kebenaran.
Keberanian seorang Datu tidak diukur dari tajamnya keris di tangan, melainkan dari keteguhan berdiri di hadapan ancaman demi keselamatan rakyat. Ia adalah tipe pemimpin yang memiliki “telinga batin”—mampu mendengar jerit yang tak terucap dan membaca luka di wajah rakyatnya.
Tabu yang Menjaga Martabat
Salah satu sisi paling heroik dari filosofi La Patiradja adalah penolakannya terhadap pertumpahan darah sesama saudara. Dalam tradisi yang menjunjung tinggi harga diri, Sigajang Laleng Lipa atau tarung sarung sering kali dianggap sebagai jalan terakhir penyelesaian sengketa.
Namun bagi sang Datu, bertarung melawan saudara demi ambisi pribadi adalah sebuah kehinaan.
Ia memilih jalan yang sunyi namun mulia: Mengalah.
Bagi jiwa yang kerdil, mengalah dianggap sebagai tanda kelemahan. Namun bagi La Patiradja, mengalah adalah manifestasi dari kedaulatan diri. Ia paham betul bahwa takhta yang dipaksakan dengan ego hanya akan berujung pada keruntuhan yang memalukan.
”Datu lebih memilih kehilangan takhta daripada harus menghilangkan nyawa saudaranya sendiri.
Sebab baginya, persaudaraan adalah kehormatan.”
Warisan untuk Masa Depan
Hikmah dari pesan yang tersirat ini, menjadi teguran bagi dinamika kepemimpinan modern. Di tengah dunia yang sering kali menghalalkan segala cara demi posisi.
Nilai-nilai La Patiradja mengingatkan kita bahwa:
Kekuasaan adalah jalan pengabdian, bukan pemuas nafsu.
Martabat tidak bisa diwariskan, ia harus dijaga dengan perilaku.
Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menahan diri dari keserakahan.
La Patiradja Datu Kamanre telah menanamkan benih kearifan bahwa seorang pemimpin sejati adalah ia yang selesai dengan dirinya sendiri.
Ia yang lebih mencintai rakyat dan saudaranya daripada kursinya. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa lama seseorang berkuasa, tetapi bagaimana ia menjaga kehormatan saat kekuasaan itu diuji.(***)











