Home / Uncategorized

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:11 WIB

Dapur Gizi di Tangan Polisi: Antara Efisiensi dan Harapan Ekonomi Warga

​PALOPO – Asap mengepul dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Wara Timur, Pontap, Senin pagi (26/1). Di sana, bukan deru mesin patroli yang terdengar, melainkan denting sudit dan aroma masakan sehat yang disiapkan untuk ribuan pelajar di Kota Palopo.

​Peluncuran operasional dapur ini menjadi babak baru dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, di balik seragam dinas yang mengawal distribusi pangan ini, terselip sebuah harapan besar tentang kemandirian ekonomi masyarakat lokal.
Target Besar di Atas Meja Makan
​Bukan angka yang sedikit, dapur ini memikul tanggung jawab besar. Sebanyak 2.819 penerima manfaat, yang terdiri dari 2.475 siswa dari 17 sekolah serta ratusan warga kategori rentan, bergantung pada distribusi harian dari dapur ini.
​”Ini merupakan perintah sosial yang sifatnya membangun generasi,” ujar Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Palopo, Zulkifli. Baginya, keterlibatan Polri lewat Yayasan Kemala Bhayangkari adalah bentuk gerak cepat mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
​Suara dari Balik Pasar
​Meski langkah Polres Palopo diapresiasi sebagai bentuk pengabdian, para pelaku usaha kecil di Palopo menatap program ini dengan perasaan campur aduk. Ada kerinduan untuk ikut terlibat aktif, bukan sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.
​Hayati (45), seorang pemilik katering rumahan di Wara Timur, mengungkapkan harapannya. Menurutnya, program MBG adalah “kue ekonomi” yang seharusnya bisa dinikmati oleh ibu-ibu rumah tangga dan pedagang pasar.
​”Kami senang anak-anak dapat makan gratis, tapi kami juga berharap pemerintah memberi kesempatan bagi kami pelaku UMKM. Kalau katering lokal yang dilibatkan, dapur kami ngepul, pasar juga ramai karena kami belanja di sana.
Jangan sampai semua dikelola instansi, lalu kami hanya jadi penonton,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Efisiensi vs Pemberdayaan
​Keterlibatan Polres memang memberikan jaminan keamanan pangan dan kecepatan logistik di masa awal (transisi). Dengan rantai komando yang solid, standar gizi yang ketat lebih mudah diawasi.
Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana mengubah model “dapur instansi” menjadi “dapur rakyat”.
​Idealnya, efek domino ekonomi akan terasa jika bahan baku seperti beras, sayur, dan protein diambil langsung dari petani dan pedagang pasar lokal Palopo.
Program ini memiliki potensi besar untuk menjadi mesin penggerak UMKM, jika dikelola dengan semangat kemitraan.
​Harapan Masa Depan: Dari Relawan ke Kemitraan
Saat ini, dapur di Wara Timur digerakkan oleh 47 relawan. Publik menaruh harapan besar agar model ini hanyalah sebuah fase awal untuk memastikan sistem berjalan stabil.
Ke depannya, publik berharap Polri bisa berperan sebagai pengawas standar kualitas (quality control), sementara operasional harian menjadi ladang usaha bagi koperasi warga atau kelompok UMKM kuliner lokal.
​”Mudah-mudahan ini menjadi inspirasi bagi pihak lain,” tambah Zulkifli.
​Inspirasi yang dimaksud tentu bukan sekadar menyediakan piring berisi makanan, melainkan menciptakan ekosistem di mana negara hadir untuk memberi gizi, dan rakyat diberi ruang untuk tetap berdaya secara ekonomi.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Pemangkasan Dana Transfer Ancam Anggaran Pendidikan dan Kesehatan di Palopo

Uncategorized

Mahkamah Partai NasDem Pulihkan Hak Abdul Salam sebagai Anggota DPRD Palopo

Uncategorized

Selamat Memperingati Hari Kesaktian Pancasila

Uncategorized

Kupas Tuntas Kontroversi KUHP Baru, Pamornews Bersama PBH PERADI Gelar Diskusi “SOTOMI” di Balikpapan

Uncategorized

Pemkab Morowali Gelar Rapat Penataan Honorer ke Skema Alih Daya Bersama Seluruh OPD

Uncategorized

Luwu Timur Terancam Defisit BBM: 12 Tangki Pengangkut Tertahan Aksi Massa

Uncategorized

Musnahkan Barang Ilegal Senilai Miliaran Rupiah, Wabup Iriane Iliyas Apresiasi Bea Cukai Morowali

Uncategorized

Palopo Bakal Rombak Total Birokrasi: 38 SKPD ‘Gemuk’ Dipangkas Jadi 25, Efisiensi Jadi Nyawa Pemerintahan Baru