Home / Uncategorized

Senin, 22 Juni 2026 - 14:26 WIB

Di Balik 1.000 Kantong Darah: Kisah Empati UMB DI Tengah Kekosongan Perhatian 

PALOPO – H. Haidir Basir terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca saat ia berdiri di panggung perayaan Dies Natalis ke-17 Universitas Mega Buana (UMB) Palopo, baru-baru ini. Di hadapannya, bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah penyelamat bagi nyawa banyak orang.

​Pria yang menjabat sebagai Ketua PMI Kota Palopo itu mengaku tak menyangka. Dua pekan sebelumnya, ia hanya berharap pada angka seratus. Namun, di hari yang bersejarah bagi UMB itu, sebuah angka sepuluh kali lipat lebih besar diumumkan: 1.000 kantong darah.

​”Saya kira hanya seratus. Tapi ternyata seribu. Luar biasa,” ucap Haidir dengan nada haru.

​Bagi Haidir, 1.000 kantong darah bukan sekadar angka atau barang medis. Itu adalah napas bagi pasien-pasien yang sedang berjuang di rumah sakit. Dengan asumsi kebutuhan rutin, sumbangan ini setidaknya menjamin ketersediaan darah di Palopo hingga enam bulan ke depan.

Baca juga  Bupati Luwu Utara Instruksikan Patroli Gabungan Jaga Kondusivitas Ramadan dan Nyepi

Secara finansial, jika dikonversi, nilainya mencapai Rp350 juta.

​Namun, di balik angka tersebut, terselip sebuah refleksi tajam. Di saat PMI Palopo sedang berjuang di tengah krisis stok darah akibat tak teralokasinya dana hibah di APBD, justru pihak swasta yang mengambil peran.

​”Kota Palopo sangat beruntung memiliki pimpinan perguruan tinggi yang humanis,” puji Haidir.

​Sosok di balik keputusan berani itu adalah Rektor UMB, Prof. Nilawati Uly. Baginya, kampus tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas sosial. Tema “Sinergi UMB Palopo Bertumbuh, Berinovasi dan Berdampak Untuk Negeri” bukan sekadar slogan di atas spanduk, melainkan manifestasi dari rasa kemanusiaan yang mendalam.

​”UMB hadir untuk melayani dengan humanis tanpa diskriminasi,” ujar Prof. Nilawati singkat, namun tegas.

Baca juga  Hengjaya Mineralindo Sabet Penghargaan Subroto 2025 untuk PPM Terinovatif

​Sikap Rektor UMB ini seolah menjadi “tamparan halus” bagi pemangku kebijakan. Ada satire yang nyata di sana; bagaimana sebuah institusi pendidikan mampu melihat urgensi kemanusiaan ketika negara, dalam hal ini pemerintah daerah, dinilai alpa atau tertatih-tatih dalam memberikan perhatian pada organisasi seperti PMI.

​Peristiwa di Kampus 2 UMB, Jl. Opu Tosappaile itu, menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di tengah krisis, empati seringkali datang dari arah yang tak terduga. Saat birokrasi mungkin melambat, kepedulian seorang akademisi justru melompat melampaui ekspektasi.

​Kehadiran 1.000 kantong darah ini adalah harapan. Bagi PMI, ini adalah oksigen. Bagi masyarakat Palopo, ini adalah bukti bahwa di tengah dinginnya meja-meja birokrasi, masih ada hati yang hangat dan peduli pada sesama. (aBa)

​#

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Selamat Idul Fitri 1445 h, dari Kepala Dinas Perhubungan Luwu

Uncategorized

Walikota Tak Boleh Tunda Gaji Nakes, Guru, dan Petugas Kebersihan 

Uncategorized

PERADI Balikpapan Gelar Rakercab: Siapkan Advokat Hadapi Transisi KUHP 2023 dan KUHAP 2025

Uncategorized

Bea Cukai Morowali Gulirkan SERABI

Uncategorized

SEKDA YUSMAN MAHBUB SAMPAIKAN INSTRUKSI BUPATI MOROWALI IKSAN B ABD RAUF : GAJI HONORER HARUS DIBAYARKAN SEBELUM BULAN PUASA

Uncategorized

KKSS dan KKST dilantik secara bersamaan
Dirgahayu Kota Palopo Ke-22

Uncategorized

Dirgahayu Kota Palopo Ke-22

Uncategorized

Menuju Keadilan Humanis:  Bapas Palopo Siap Jadi Ujung Tombak Penerapan Pidana Kerja Sosial dalam KUHP Baru