Oleh: [Baso Akhmad]

SURABAYA baru saja usai dengan hiruk-pikuk rapat tahunan. Sebagai wartawan di salah satu anak grup koran terbesar di Jawa Timur kala itu, langkah kaki saya tidak langsung kembali ke meja redaksi untuk mengejar tenggat berita kota.
Sebaliknya, saya justru melangkah ke terminal, naik bus umum membelah jalur menuju arah selatan: Malang. Tujuannya satu, sebuah tempat yang namanya kerap diucapkan dengan nada berbisik: Gunung Kawi.
Sebelum melangkah lebih jauh, saya perlu meluruskan satu hal. Disclaimer dulu, agar tidak ada salah paham di antara kita: misi saya ke sana murni sebagai jurnalis yang mengejar laporan khusus, bukan sedang mencari jalan pintas pesugihan.
Buktinya nyata dan jujur sekali; sampai hari ini saya tidak kaya mendadak, bahkan cicilan kredit saya pun masih ada yang belum lunas.
Kalau saja dulu saya ke sana untuk meminta harta, mungkin tulisan ini saya kirim dari kapal pesiar, bukan dari balik meja kerja seperti sekarang.
Aroma Dupa dan Harapan yang Berjejal
Begitu menginjakkan kaki di pelataran komplek makam, aroma dupa (hio) langsung menyergap indra penciuman.
Udara pegunungan yang sejuk mendadak terasa berat oleh atmosfer spiritual yang kental. Di sini, pemandangan unik tersaji: akulturasi budaya yang begitu cair. Bangunan-bangunan dengan arsitektur Tionghoa berdiri berdampingan dengan nuansa lokal Jawa yang kental.
Gunung Kawi memang bukan sekadar tempat ziarah biasa. Ia adalah “pasar harapan.” Nama tempat ini belakangan kembali mencuat, dibumbui narasi media sosial tentang tokoh-tokoh besar—bahkan rumor mengenai mantan Presiden Indonesia—yang konon sempat datang memohon restu sebelum menjabat.
Isu-isu seperti inilah yang selalu merawat kemegahan mistis lereng gunung ini di mata publik.
Bukan Promosi, Melainkan Potret Sosiologis
Sebagai wartawan, misi saya adalah membedah fenomena ini dalam sebuah laporan khusus. Mengapa ribuan orang rela menempuh perjalanan jauh dan merogoh kocek dalam-dalam untuk sesuatu yang tak kasat mata?
Di balik isu pesugihan yang sering disalahartikan sebagai jalan pintas gelap, ada realitas sosial yang menarik untuk disimak.
Gunung Kawi adalah potret di mana keputusasaan manusia bertemu dengan tradisi. Ada ekonomi yang berputar di sana—dari penginapan, penjual bunga, hingga pemandu ritual. Namun, di sisi lain, ada kabut tebal yang menyelimuti logika.
Menulis feature ini adalah upaya untuk memberi tahu pembaca bahwa tempat seperti ini ada. Ia adalah bagian dari mosaik kepercayaan masyarakat kita yang kompleks.
Mengetahui keberadaannya bukan berarti mengamini metodenya. Justru, laporan ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang semakin modern, masih ada sudut-sudut di mana mistisisme menjadi komoditas dan sandaran hidup.
Menembus Mitos
Kabar burung tentang presiden atau pejabat yang mampir ke sini mungkin akan selalu ada, menjadi bumbu penyedap bagi mereka yang mencari legitimasi spiritual.
Namun, bagi saya yang saat itu duduk di bangku bus umum dalam perjalanan pulang ke Surabaya, lalu pulang ke Makassar, Gunung Kawi tetaplah sebuah gunung dengan sejuta cerita manusia di dalamnya.
Tempat ini tidak perlu dipromosikan sebagai ladang kekayaan instan. Ia cukup dicatat sebagai sebuah fenomena; bahwa manusia, dalam titik terendah atau puncak ambisinya, akan selalu mencari cara untuk merasa “direstui” oleh alam semesta, terlepas dari bagaimana cara mereka menempuhnya.(***)









