LUWU UTARA — Musibah tak pernah datang membawa pengumuman. Ia hadir menguji keteguhan iman dan merajut kembali empati kemanusiaan kita sebagai saudara sesama anak bangsa.
Kabar duka datang dari NTT yang diguncang gempa bumi, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di wilayah NTT, hentakan bumi seketika menyentak hati banyak pihak.
Luwu Utara menjadi salah satu wilayah yang turut merasakan betapa pilunya bencana yang terjadi di NTT. Masyarakat Kabupaten Luwu Utara turut merasakan kepiluan yang mendalam tersebut.
Salah satu entitas resmi, DPD BKPRMI Kabupaten Luwu Utara, secara resmi menyampaikan doa serta keprihatinan yang mendalam bagi seluruh masyarakat NTT yang terdampak bencana.
“Bumi NTT bergetar. Getarannya terasa di relung hati kami. Jarak geografis yang terbentang luas, tidak menyurutkan rasa persaudaraan kami,” ucap Ketua DPD BKPRMI Luwu Utara, Andi Lalak.
“Duka NTT adalah duka kita bersama. Luka mereka adalah luka yang juga kita rasakan. Sakit yang mereka rasakan, juga kami rasakan. Doa kami, mereka kuat menghadapi cobaan ini,” harapnya.
Melalui semangat ukhuwah islamiyah DPD BKPRMI Luwu Utara mengajak segenap pemuda dan remaja masjid untuk senantiasa menengadahkan tangan memohon doa kepada Sang Khalik.
Sebagai bentuk solidaritas moral, BKPRMI Luwu Utara memanjatkan doa tulus agar Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan perlindungan-Nya kepada segenap korban bencana di NTT.
“Kami mengirimkan energi positif dan doa agar para korban yang terdampak diberikan kesabaran, serta kelapangan dada dalam menghadapi ujian yang maha berat ini,” ucap Andi Lalak lagi.
“Semoga penanganan darurat, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak dapat segera berjalan baik, lancar, cepat, dan tepat, serta terjaga kondusivitasnya,” tambahnya.
Dikatakannya, musibah bencana ini menjadi pengingat yang kuat bahwa betapa kecilnya manusia di hadapan Allah SWT, sekaligus juga menjadi momentum emas memperkuat solidaritas sosial.
Andi Lalak menegaskan bahwa DPD BKPRMI Luwu Utara tidak hanya hadir untuk urusan syiar di atas mimbar, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam merespons persoalan kemanusiaan.
“Ini merupakan wujud dari nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dari Luwu Utara untuk NTT. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan memulihkan bumi NTT,” pungkasnya. (LHr).









