Home / Uncategorized

Rabu, 4 Maret 2026 - 14:45 WIB

Ekonomi Lutim Melambat di Angka 3,7%, Asri Tadda: Ironi Daerah Kaya Tambang yang Terjebak ‘Ekonomi Satu Kaki’

LUWU TIMUR – Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu Timur (Lutim) hanya sebesar 3,7 persen menuai sorotan tajam.

Angka ini menempatkan daerah penghasil nikel terbesar di Sulawesi Selatan itu di posisi kedua terbawah di tingkat provinsi.

​Menanggapi hal tersebut, Direktur The Sawerigading Institute, Asri Tadda, menyebut fenomena ini sebagai sebuah ironi besar.

Menurutnya, Luwu Timur yang memiliki fiskal (PAD dan APBD) yang sangat kuat seharusnya tidak tumbuh lebih lambat dibandingkan daerah yang tidak memiliki tambang.

​Ketergantungan pada Nikel Jadi Bumerang

​Asri menilai, penyebab utama perlambatan ini adalah struktur ekonomi Lutim yang masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif pertambangan.

​”Masalahnya, sektor ini sangat tergantung pada harga dunia dan tidak padat karya. Multiplier effect ke desa-desa sering kali terbatas.

Baca juga  Pemkab Morowali Bentuk TRC-PB Multisektor, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana 

Begitu harga komoditas global tidak melonjak, pertumbuhan otomatis tertahan,” ujar Asri dalam keterangannya kepada media, Senin (2/3/2026).

​Ia membandingkan Lutim dengan Kabupaten Sidrap (7,71%) dan Kabupaten Luwu (7,43%) yang justru melesat di atas 7 persen berkat penguatan sektor pertanian dan ekonomi rakyat.

“Ini perbedaan nyata antara ekonomi tambang dan ekonomi berbasis masyarakat,” tambahnya.

​Alarm bagi Pemerintah Daerah

​Sebagai tokoh masyarakat sekaligus Wakil Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Timur, Asri menegaskan bahwa angka 3,7 persen adalah alarm dini bagi pemerintah daerah yang saat ini berada di tahun pertama kepemimpinan.

​Ia menyoroti tiga poin krusial yang harus segera dibenahi:

​Diversifikasi Ekonomi: Perlunya roadmap jelas agar Lutim tidak terus-menerus “menyusu” pada nikel.

​Integrasi UMKM: Mendorong keterlibatan pengusaha lokal secara nyata dalam rantai pasok industri besar.

Baca juga  Wagub Sulteng Kunjungi Langsung Pasien Asal Morut di RS Wahidin Makassar, Keluarga: Semua Pergumulan Kami Dibantu

​Dorongan Sektor Produktif: Mengoptimalkan sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata agar menjadi kaki ekonomi yang mandiri.

​Butuh Reorientasi Belanja APBD

​Asri Tadda mendesak Pemkab Luwu Timur untuk melakukan reposisi arah kebijakan. Menurutnya, APBD yang besar jangan hanya terjebak pada belanja rutin, melainkan harus menjadi alat redistribusi yang produktif.

​”Daerah kaya sering terjebak dalam rasa nyaman karena PAD besar. Padahal, ekonomi satu kaki itu sangat goyah. Sudah saatnya ada investasi serius pada agroindustri modern sebagai penyeimbang tambang,” tegasnya.

​Publik kini menantikan apakah pemerintah daerah akan terus mengandalkan siklus komoditas global atau berani melakukan terobosan untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh warga Bumi Batara Guru.(***)

 

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Pemda Morowali Dukung Penyuluhan dan Bimbingan Jabatan bagi Pencari Kerja

Uncategorized

Pelatihan Menjahit 2025 Digelar, Wabup Morowali Iriane Motivasi Peserta Manfaatkan Fasilitas dan Mesin Modern

Uncategorized

Bupati Kutim: Transformasi Pendidikan Kunci Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Uncategorized

Sembilan Lapak di Salassa Luwu Utara Ludes Terbakar, Jalur Trans Sulawesi Sempat Lumpuh Total

Uncategorized

BERKOMITMEN MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SEKITAR, MINAMAS PLANTATION KEMBALI SALURKAN BANTUAN DI KECAMATAN WITA PONDA SULTENG

Uncategorized

Hadiri Penamatan dan Wisuda Quran SDIT Insan Madani, Pj Wali Kota Beri Apresiasi

Uncategorized

Terobosan Baru! Naskah Akademik “Daerah Istimewa Luwu Raya” Rampung

Uncategorized

Aturan Di Atas Kertas: Pembatasan BBM di Palopo Dinilai Mandul Tanpa Pengawasan Ketat