PALOPO— Empat bulan sudah, pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 15 Salolo, Kota Palopo, terperosok dalam kondisi yang memilukan. Sejak Juni 2025, dua ruang kelas – kelas V dan VI – tak lagi bisa dipakai. Plafonnya ambruk, bukan karena bencana alam, melainkan karena serangan rayap yang menggerogoti hingga materialnya jatuh dan membahayakan keselamatan.
Kini, demi menjaga kegiatan belajar tetap berjalan, puluhan siswa terpaksa menelan pil pahit. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan belajar yang jauh dari kata layak: di ruang Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang menyatu dengan gudang, serta ruang agama Kristen.
”Sempit dan Penuh Barang”

Kepala SDN 15 Salolo, Irawati Shelly, mengungkapkan betapa tidak representatifnya kondisi ini. “Siswa kurang nyaman karena ruangannya sempit dan tidak dirancang untuk kegiatan belajar,” ujarnya.
Bayangkan saja, ruangan yang seharusnya menjadi tempat guru menyimpan alat olahraga atau barang inventaris, kini disulap menjadi ruang kelas dadakan. Sempit, penuh barang, dan membuat siswa harus belajar dalam kondisi berdesakan. Kondisi ini tak hanya mengganggu konsentrasi, tetapi juga merenggut hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan di tempat yang aman dan nyaman.
Ironisnya, meski pihak sekolah sudah dua kali mengajukan permohonan perbaikan kepada dinas terkait, hingga kini belum ada respons atau realisasi yang datang.
Proses belajar mengajar yang seharusnya menjadi prioritas utama tampaknya terhenti di meja birokrasi.
DPRD Prihatin, Anggaran Terkatung-katung
Situasi ini tak luput dari perhatian anggota legislatif Palopo. Wakil Ketua DPRD Kota Palopo, Alfri Jamil, menyatakan keprihatinannya. “Anak-anak terpaksa belajar di ruangan yang menyatu dengan gudang. Ini sangat miris,” katanya.
Alfri menambahkan bahwa DPRD sebenarnya telah mengusulkan anggaran renovasi ruang kelas melalui Forum Badan Anggaran (Banggar). Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa usulan anggaran sudah ada, namun perbaikan tak kunjung terealisasi, sementara siswa terus berdesak-desakan di gudang?
Kasus SDN 15 Salolo menjadi cerminan bahwa persoalan infrastruktur pendidikan bukan hanya sebatas angka, tetapi menyangkut kualitas belajar dan masa depan anak bangsa. Menanti perbaikan yang tak pasti, para siswa di Palopo ini hanya bisa berharap agar suara mereka didengar, dan tempat belajar mereka yang layak segera dikembalikan.(***)










