Oleh: BASO AKHMAD
Wajah Ibu Susi, 35 tahun, pucat pasi. Telepon genggamnya bergetar di tangan, menampilkan pesan berantai yang lagi-lagi mengabarkan tentang “orang gila cari mangsa” dan “penculik berkedok tukang sayur”.
Anaknya, Balita Fajar, sedang bermain di halaman. Insting keibuan Susi langsung menjerit: Fajar harus ditarik masuk. Bukan hanya karena khawatir pada ancaman di luar, namun juga karena bayangan masa lalu yang seolah berulang: kengerian yang sama pernah menghantui masa kecilnya sendiri di tahun 80-an, kala isu pencari “kepala untuk tumbal jembatan” merajalela.
Inilah fenomena sosial yang tak pernah benar-benar mati di Indonesia: berita bohong (hoaks) tentang kekejaman—mulai dari kanibalisme hingga tumbal proyek—yang kembali muncul, menjadi momok menakutkan, dan anehnya, selalu punya daya hidup untuk merisaukan setiap generasi.
Nostalgia Kengerian Orde Baru
Dalam analisis sosiolog budaya, Dr. Bima Santoso, siklus hoaks ini adalah manifestasi dari kecemasan kolektif yang mendalam.
“Hoaks penculikan anak, terutama yang dikaitkan dengan tumbal, sudah ada sejak era pembangunan masif Orde Baru, khususnya di tahun 1980-an,” jelas Dr. Bima.
Pada era tersebut, pembangunan infrastruktur besar-besaran, seperti jembatan dan jalan layang, kerap dibumbui narasi mistis tentang ‘syarat’ yang harus dipenuhi agar proyek berdiri kokoh—yaitu kepala manusia, khususnya anak-anak.
Isu ini, alih-alih mereda, justru menjadi mitos urban yang survive dan bermutasi.
”Dulu, isu itu menyebar dari mulut ke mulut. Kini, dengan hadirnya WhatsApp dan TikTok, mutasinya lebih cepat dan visualnya lebih dramatis. Intinya sama: menciptakan kepanikan untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih substansial,” tambahnya, merujuk pada spekulasi bahwa hoaks ini sering diluncurkan saat ada polemik politik atau ekonomi yang besar.
Kanibal dan ODGJ: Wajah Baru Ketakutan
Jika di masa lalu sasarannya adalah “tukang cari kepala”, kini karakter yang dibawa lebih beragam:
Penculik dengan organ tubuh robek (isu kanibal yang beredar belakangan).
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dicurigai sebagai penculik.
Hal ini menjadi ironi pahit. Kepanikan yang disebabkan oleh hoaks justru memakan korban nyata: beberapa kasus menunjukkan ODGJ atau orang yang berperilaku aneh dihakimi massa hingga tewas karena disangka penculik.
Ketakutan kolektif telah merenggut sisi kemanusiaan, mengubah kecurigaan menjadi justifikasi untuk main hakim sendiri.
Di balik hingar bingar hoaks, kisah nyata Ibu Susi adalah representasi dari jutaan ibu lainnya. Kecemasan adalah hal yang sah, tetapi tindakan preventif haruslah berbasis fakta, bukan fiksi.
”Sejak isu ini ramai, saya tidak lagi mengizinkan anak saya main di luar pagar. Meskipun polisi bilang hoaks, naluri saya tetap waspada.
Rasanya, sebagai ibu, kami terperangkap di antara dua pilihan: panik berlebihan atau abai sama sekali,” tutur Susi dengan suara bergetar.
Menanggapi fenomena berulang ini, Psikolog Anak dan Keluarga, Lia Permata, S.Psi., M.A., memberikan catatan penting. Ia menyarankan, alih-alih menyebarkan kepanikan, orang tua perlu membangun Literasi Kritis Digital di lingkungan rumah dan sekolah.
”Hoaks selalu bermain dengan emosi primal kita, yaitu ketakutan akan kehilangan anak.
Cara terbaik melawannya bukan dengan menutup mata, tetapi dengan mengaktifkan nalar. Selalu konfirmasi ke sumber resmi. Jangan biarkan ketakutan yang tidak berdasar merenggut ruang gerak anak-anak kita dan merusak kemanusiaan kita,” tegas Lia.
Jalan keluar dari hantu yang berulang ini bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan juga tugas kolektif setiap jempol warganet: berhenti menyebar, mulai memverifikasi.
TIPS MENCEGAH HOAKS BERULANG:
Verifikasi Sumber: Selalu cek informasi dari kanal resmi (Polri, KPAI, atau media massa kredibel).
Cek Fakta dan Data Lama:
Hoaks sering menggunakan foto atau video lama yang didaur ulang. Gunakan reverse image search (pencarian gambar terbalik) di Google.
Waspadai Emosi: Berita yang provokatif dan langsung memicu kemarahan/ketakutan biasanya adalah hoaks.
Edukasi Anak: Ajari anak untuk waspada terhadap orang asing, tetapi jangan menanamkan ketakutan berlebihan terhadap ODGJ atau orang yang berbeda.(**











