LUWU UTARA – Fakta baru terungkap dalam insiden berdarah di ruang sidang DPRD Luwu Utara pada Senin kemarin. Korban kebrutalan pria bernama Wandi tersebut diketahui adalah Reski Halim, seorang aktivis yang hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) mengenai mafia BBM ilegal.
Hal yang sangat disayangkan, aksi penganiayaan tersebut disinyalir terjadi di depan mata oknum pejabat kepolisian, yakni Kasat di Polres Luwu Utara, yang saat itu juga berada di lokasi untuk mengikuti jalannya rapat.
Kejadian bermula ketika rapat sedang diskors untuk waktu salat Ashar. Di tengah suasana jeda tersebut, pelaku secara tiba-tiba melakukan serangan fisik terhadap Reski Halim. Keberadaan aparat keamanan di dalam ruangan saat itu ternyata tidak mampu membendung aksi nekat pelaku yang melakukan pemukulan secara brutal. Malahan sejumlah saksi mata menyebutkan, perwira polisi itu terkesan melakukan pembiaran.
“Saya dipukul dan ditendang berkali kali, sampai saya jatuh. Disaat itulah baru perwira itu baru..mengatakan sudah…sudah ,” tandas Reski.
Penahanan Wandi oleh pihak Polres Luwu Utara kini menjadi sorotan publik. Masyarakat dan rekan-rekan aktivis mendesak agar proses hukum dilakukan secara transparan dan tanpa pandang bulu, mengingat aksi tersebut dilakukan di lembaga negara yang memiliki pengawalan resmi.
”Kejadian ini merupakan bentuk penghinaan terhadap lembaga demokrasi dan mencederai ruang aspirasi masyarakat. Apalagi terjadi di hadapan aparat penegak hukum,” ujar salah satu rekan korban yang menyayangkan lemahnya antisipasi keamanan saat itu.
Saat ini, Reski Halim dikabarkan tengah menjalani pemeriksaan medis dan berkoordinasi dengan pihak berwajib untuk melengkapi berkas laporan penganiayaan tersebut. Di sisi lain, publik menanti klarifikasi resmi dari Polres Luwu Utara terkait pengamanan di dalam ruang sidang saat insiden itu pecah.(***)
Editor : aBa











