Home / Uncategorized

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:03 WIB

Sulit Bertemu di Titik Psikologis, Prof Pirol: Penyatuan Luwu-Toraja Butuh Waktu Lama

PALOPO – Wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya kembali menjadi diskursus hangat.
Namun, gagasan penyatuan wilayah Luwu dan Toraja guna memenuhi syarat administratif pemekaran dinilai tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Guru Besar UIN Palopo sekaligus Ketua FKUB Kota Palopo, Prof. Dr. H.Abd Pirol,M.Ag, memberikan catatan kritis terkait hambatan psikologis dan historis yang masih mengakar kuat di kedua masyarakat.

​Hambatan Psikologis yang “Mengkristal”
​Meski mengakui bahwa gagasan penyatuan yang dilemparkan oleh Frederik Kalalembang ( FJK) , sebagaimana ulasan editorial Pamornews dan wacana via Kanal ini , sangat logis secara rasional dan teknokratis, Prof. Pirol menekankan adanya realitas sosiologis yang berbeda di lapangan.

​”Harus diakui ada kondisi psikologis yang sulit menyatu di kubu kedua belah pihak. Resistensi penyatuan ini tidak hanya di pihak Luwu, di pihak Toraja kubu penolakan penyatuan juga sudah mengkristal,” ungkap Prof. Pirol.
​Belajar dari Rekam Jejak Sejarah

Baca juga  Perkuat Konsolidasi, DPD BKPRMI Luwu Utara Gelar Musyawarah Kecamatan Terpadu

​Menurut Prof. Pirol, jejak sejarah mencatat bahwa masyarakat Toraja yang dulunya merupakan bagian dari Onder Afdeeling Luwu, justru berjuang keras untuk memisahkan diri.
​”Ada ketidaknyamanan. Kalau mereka mau bersatu, mengapa gerakan pemisahan diri itu masif sejak dulu?” ujarnya retoris.

Hal ini menjadi bukti bahwa ego identitas dan keinginan untuk mandiri secara administratif sudah menjadi prinsip yang dipegang teguh sejak lama.

​Bedah Konsep “Serumpun” dan Tomanurung
​Lebih jauh, Prof. Pirol mengajak semua pihak untuk mengkaji lebih dalam diksi “serumpun” yang sering dijadikan jembatan narasi penyatuan.

Baca juga  Palopo "Mendidih": Suhu Capai 37 Derajat , Warga Keluhkan Sengatan Panas Tak Biasa

Ia menunjukkan bahwa dalam aspek fundamental seperti konsep kepemimpinan adat, terdapat perbedaan yang sangat mendasar.
​”Bicara soal konsep Tomanurung saja, antara Luwu dan Toraja itu berbeda. Orang Toraja memahami Tomanurung tidak seperti yang dipahami orang Luwu. Ini contoh kecil bahwa secara kultural kita punya titik temu yang tidak mudah disatukan,” tegasnya.

Apresiasi Gagasan, Namun Realistis
​Meski skeptis terhadap implementasi jangka pendek, Prof. Pirol tetap mengapresiasi pemikiran idealis dari FJK sebagai sebuah terobosan intelektual.

Namun, merujuk pada respons masyarakat di media sosial, ia menilai pemahaman publik belum berada di frekuensi yang sama.
​”Ini bukan soal pesimis, tapi kita harus realistis. Masih perlu waktu berpuluh-puluh tahun untuk mewujudkan gagasan itu,” tutupnya.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Stabilitas Harga Jelang Nataru, Wali Kota Palopo Pantau Pasar

Uncategorized

Kebanggaan Luwu Utara: Perjalanan Inovatif Masrah Marang di Balik Suksesnya Mobil Listrik “Marlip”

Uncategorized

Cendrana Saputra: Sosok Muda Penggerak di DPRD Palopo

Uncategorized

Kenaikan Harga Beras Premium di Palopo: Beban Berat bagi Masyarakat

Uncategorized

Bupati Iksan Minta Pelayanan RSUD Morowali Sejalan dengan Perbaikan Fasilitas

Uncategorized

DP2KUKM Diminta Jadikan Pasar Rakyat Luwu Utara sebagai Pusat Ekonomi yang Bersih dan Berdaya Saing

News

RPJMD Sulawesi Tengah 2025-2030 Resmi Disahkan, Kompas Pembangunan Kesejahteraan Rakyat

Uncategorized

Perjuangan Bone Selatan dan Bone Raya Berbeda Luwu Raya