PALOPO – Walikota Palopo, Hj. Naili Trisal, belakangan ini menjadi sorotan hangat. Bukan hanya terkait kebijakan, namun kritik publik banyak tertuju pada gaya retorika dan narasi yang ia gunakan saat menyampaikan sambutan atau berinteraksi dengan masyarakat.

Nyinyiran di ruang publik, terutama media sosial, seringkali mempertanyakan bagaimana seorang pemimpin daerah membangun komunikasi publiknya.
Di tengah riuh rendahnya kritik ini, suara berbeda datang dari tokoh lokal, Jalal Abu Shirin, seorang aktivis senior sekaligus pengamat sosial kemasyarakatan di Palopo. Jalal via laman medsosnya, menawarkan perspektif yang menohok, berupaya menggeser fokus perdebatan dari estetika bahasa ke esensi kepemimpinan.
”Bukan Rektor, Tapi Pemimpin yang Bijak”
Dalam tanggapannya, Jalal Abu Shirin secara tegas menyatakan bahwa tolok ukur seorang kepala daerah tidak seharusnya disamakan dengan standar akademisi.
”Menjadi kepala daerah tak mesti seperti menjadi rektor. Ketika berbicara, ia tidak wajib menggunakan kalimat-kalimat akademik yang berbelit-belit,” ujar Jalal yang juga lawyer di Palopo.
Menurutnya, standar performa seorang walikota tidak terletak pada seberapa indah atau formal susunan kalimatnya. Yang jauh lebih krusial, lanjutnya, adalah kearifan yang ditunjukkan dalam mengambil keputusan dan memimpin daerah.
Suara Rakyat vs. Suara Penyinyir
Pesan utama yang ditekankan oleh Jalal Abu Shirin adalah keharusan seorang pemimpin untuk tetap berada di jalurnya: melayani dan mendengarkan.
”Yang dibutuhkan darinya adalah kearifan dalam memimpin,” tegas Shirin. “Untuk itu, kepala daerah harus mendengar suara rakyat. Bukan suara Timses (Tim Sukses), apalagi hanya menanggapi suara para penyinyir.”
Pernyataan ini bisa dibaca sebagai tamparan halus bagi para kritikus yang hanya berfokus pada sisi superfisial komunikasi, sekaligus menjadi pengingat bagi walikota untuk memprioritaskan substansi kerja dan aspirasi masyarakat di atas kebisingan politik dan komentar negatif.
Pandangan Jalal Abu Shirin ini mengajak publik Palopo untuk kembali melihat inti dari tugas seorang Walikota: bukan sekadar piawai berpidato, melainkan memiliki hati yang arif, kebijakan yang bijak, dan telinga yang selalu terbuka lebar bagi suara rakyat yang sesungguhnya.(***)











