Home / News

Kamis, 29 Januari 2026 - 08:07 WIB

Menelusuri Jejak Langkah Raja Alam di Tanah Sulawesi

​BERAU – Sejarah seringkali mencatat kemenangan dalam gemuruh mesiu, namun dalam film kolosal terbaru bertajuk “Raja Alam”, sutradara Yayan memilih untuk memotret sisi lain dari perjuangan: keteguhan di balik jeruji pengasingan.


​Sultan Alimuddin, penguasa pertama Kesultanan Sambaliung yang memimpin pada 1810-1843, kini tidak hanya dikenal melalui buku sejarah.
Kisahnya akan dihidupkan kembali lewat layar lebar, menyoroti salah satu fragmen paling emosional dalam hidupnya—saat ia dipisahkan paksa dari rakyatnya dan dibuang ke Makassar, Sulawesi Selatan.

​Makassar: Saksi Bisu Keteguhan Sang Sultan
​Keputusan tim produksi untuk melakukan pengambilan gambar langsung di Makassar bukan tanpa alasan. Bagi Sultan Alimuddin, Makassar bukan sekadar titik geografis, melainkan medan tempur batin. Di sana, pemerintah kolonial Belanda mencoba memadamkan api perlawanannya dengan cara mengisolasinya dari Bumi Batiwakkal.

“Kami ingin penonton merasakan pedihnya pengasingan itu. Bagaimana rasanya menjadi seorang raja yang berdaulat, namun harus berada jauh dari tanah airnya karena menolak tunduk pada penjajah,” ungkap Yayan, sineas asli Berau yang menggarap proyek ini.

Baca juga  Warga Forum Peduli Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan se-Kota Palopo Gelar Aksi Unjuk Rasa

​Adegan-adegan di Sulawesi Selatan akan menggambarkan kontras antara kerinduan mendalam Sultan pada Berau dengan ketetapan hatinya yang tidak goyah sedikit pun terhadap intimidasi Belanda.

Makassar dalam film ini diposisikan sebagai panggung pembuktian bahwa raga boleh terkurung, namun jiwa kepahlawanan tak bisa dipenjara.

​Riset Mendalam untuk Akurasi Sejarah
​Mengingat pentingnya periode pengasingan ini, tim produksi melakukan riset ekstensif terhadap arsip kolonial dan literatur sejarah di Makassar dan Berau.

Hal ini dilakukan agar setiap detil, mulai dari suasana dermaga Makassar tempo dulu hingga interaksi Sultan selama di pengasingan, terasa autentik.
​Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa film “Raja Alam” tidak hanya menjadi tontonan fiksi, tetapi juga dokumen visual yang edukatif bagi generasi muda.

Momentum Menuju Gelar Pahlawan Nasional
​Pengangkatan kisah pengasingan di Sulawesi Selatan ini menjadi sangat relevan mengingat saat ini Sultan Alimuddin sedang diusulkan sebagai

Pahlawan Nasional dari Kabupaten Berau.
Kisah pengasingan adalah bukti nyata pengorbanan personal yang luar biasa demi mempertahankan kedaulatan daerah.

Baca juga  Belum Kantongi UKL-UPL dan PBG, DPRD Luwu Bakal Gelar RDP Terkait RS Fitrah Anugrah Medika

“Pengasingan ke Makassar adalah bukti otentik perlawanan beliau. Beliau berbahaya bagi Belanda karena pengaruh dan prinsipnya.

Inilah yang ingin kami tonjolkan agar publik tahu mengapa beliau sangat layak disebut Pahlawan Nasional,” tambah Yayan.

Harapan Lewat Layar Lebar
​Film yang mulai digarap sejak akhir 2025 ini ditargetkan tayang pada tahun 2026. Melalui sinematografi yang megah namun tetap menyentuh sisi kemanusiaan, “Raja Alam” diharapkan mampu membangkitkan rasa nasionalisme.

​Penonton akan diajak melihat bahwa perjuangan Sultan Alimuddin tidak hanya terjadi di medan perang Berau, tetapi juga dalam kesunyian pengasingan di Sulawesi Selatan—sebuah perjalanan panjang seorang pemimpin yang memilih kehilangan kebebasan pribadinya demi harga diri bangsanya.

​Poin-poin yang diperkuat dalam versi ini:
​Sentuhan Emosional: Menggambarkan pengasingan bukan hanya sebagai perpindahan tempat, tapi sebagai perjuangan batin.

​Koneksi Antar Daerah:
Menghubungkan sejarah Berau dan Makassar secara kuat.
​Nilai Kepahlawanan: Menekankan bahwa pengasingan adalah bukti nyata Sultan Alimuddin tidak mau berkompromi dengan Belanda.(***)

Share :

Baca Juga

Pendampingan Penginputan PM-PK SPIP Terintegrasi

News

Pendampingan Penginputan PM-PK SPIP Terintegrasi

News

Alih Fungsi Lahan Sawah Produktif di Luwu Marak, LP2B dan RTRW Diduga Tumpang Tindih

News

Rute Penerbangan IMIP–Palu Resmi Beroperasi

News

Pj Wali Kota & Kapolres Palopo Bersama Latihan Panahan Merah Putih

News

Mudahkan Urusan Perpajakan, Kantor Konsultan Pajak Kini Hadir di Masamba
Senam Sehat di Area Dangerakko, Lanjut dengan Bersih-Bersih

News

Senam Sehat di Area Dangerakko, Lanjut dengan Bersih-Bersih

News

Bupati dan Wakil Bupati Luwu Tinjau Progres Awak Mas Project PT MDA
Petani Akui Lahan Laoli Milik Pemkab Luwu Timur, Ungkap Alasan Sempat Ngotot Bertahan

News

Petani Akui Lahan Laoli Milik Pemkab Luwu Timur, Ungkap Alasan Sempat Ngotot Bertahan