Home / Uncategorized

Sabtu, 7 Februari 2026 - 16:10 WIB

Ajis Husba: Sosok Camat yang Mengukir Sejarah sebagai Kepala Bandara Masamba Pertama

MASAMBA – Dalam catatan sejarah perhubungan udara di Sulawesi Selatan, nama Ajis Husba, BA menempati posisi yang unik dan tak tergantikan.

Ia bukan sekadar pejabat biasa, melainkan sosok yang dipercaya memimpin Lapangan Udara Masamba (kini Bandara Andi Jemma) saat pertama kali diresmikan kembali pada 1 Juni 1977.

​Penunjukan Ajis Husba sebagai kepala bandara membawa cerita tersendiri yang mewarnai kebangkitan transportasi udara di Luwu Utara setelah puluhan tahun mati suri.

​Kepemimpinan Ganda:

Antara Birokrasi dan Dirgantara

​Berbeda dengan bandara pada umumnya yang dipimpin oleh pejabat teknis dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Ajis Husba mengemban amanah ini saat ia masih aktif menjabat sebagai Camat Masamba.

Baca juga  Terobosan Baru! Naskah Akademik "Daerah Istimewa Luwu Raya" Rampung

​Ada dua alasan utama yang melatarbelakangi pengangkatan unik ini:

​Misi Strategis Transmigrasi: Masamba saat itu dipersiapkan sebagai pintu masuk utama bagi para transmigran dari Pulau Jawa, Bali, dan Lombok.

Dengan menjabat sebagai Camat sekaligus Kepala Bandara, Ajis Husba memiliki kewenangan penuh untuk mengoordinasikan kedatangan pesawat sekaligus mengatur penempatan para transmigran secara efektif.

​Efisiensi dan Kedekatan Wilayah: Dirjen Perhubungan Udara kala itu, Kardono, sempat berseloroh bahwa penunjukan ini adalah bentuk efisiensi agar gaji sang kepala bandara tetap bersumber dari Departemen Dalam Negeri, namun secara serius hal ini dilakukan karena Ajis paling memahami medan dan kondisi sosial masyarakat setempat.

​Membangkitkan “Landasan yang Hilang”

Baca juga  Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Peringati Hari Kesehatan Nasional Ke-61 Tahun Ajak Masyarakat Jaga Kesehata

​Di bawah pengawasan Ajis Husba, bandara yang sebelumnya berupa hutan lebat akibat terbengkalai sejak 1945 itu kembali berdenyut.

Dengan dana rehabilitasi Pelita sebesar Rp23,9 juta, ia menyaksikan transformasi lahan penuh lubang bekas bom menjadi landasan pacu sepanjang 600 meter yang siap menghubungkan Masamba dengan dunia luar.

​Simbol Perlawanan Terhadap Isolasi

​Bagi masyarakat Masamba tahun 1970-an, Ajis Husba adalah simbol harapan. Sebelum bandara ini beroperasi, perjalanan ke Ujungpandang memakan waktu 12 jam dengan Jeep melalui jalanan yang sulit.

Kepemimpinan Ajis di bandara tersebut menjadi tonggak awal berakhirnya masa isolasi daerah Luwu Utara.(***)

sumber : Boby Setiawan, kompas, perpustakaan nasional

 

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Lumpuh Total Akibat Blokade Jalan, Harga BBM Eceran di Mangkutana Tembus Rp40 Ribu Per Botol

Uncategorized

Jejak Kasubag Luwu yang Berakhir di Kursi Gubernur Sulawesi Tengah

Uncategorized

Upah Tukang di Sulawesi Tengah Paling ‘Irit’ Se-Indonesia, Hanya Rp 100 Ribu

Uncategorized

Pengusaha Beras Palopo Angkat Bicara: Harga Tertinggi di Sulsel Dipicu Stok Gabah dan Bukan Wewenang Pemkot

Uncategorized

Kafilah Sulteng, diwakili Kabupaten Morowali Tampil Memukau di Pawai Mobil Hias STQH Nasional XXVIII di Kota Kendari

Uncategorized

PT Vale Meraih Bronce Award

Uncategorized

Progres Pemekaran Luwu Raya: i-OTDA Paparkan Hasil Kajian Kelayakan Tahap Pertama
Bupati Morowali Terbitkan Surat Edaran Terkait Pengangkatan Pegawai Non-ASN Tahun 2025

Uncategorized

Komitmen Bupati Iksan: Turun Langsung, Dengar Aspirasi, Cari Solusi