MASAMBA – Dalam catatan sejarah perhubungan udara di Sulawesi Selatan, nama Ajis Husba, BA menempati posisi yang unik dan tak tergantikan.
Ia bukan sekadar pejabat biasa, melainkan sosok yang dipercaya memimpin Lapangan Udara Masamba (kini Bandara Andi Jemma) saat pertama kali diresmikan kembali pada 1 Juni 1977.
Penunjukan Ajis Husba sebagai kepala bandara membawa cerita tersendiri yang mewarnai kebangkitan transportasi udara di Luwu Utara setelah puluhan tahun mati suri.
Kepemimpinan Ganda:
Antara Birokrasi dan Dirgantara
Berbeda dengan bandara pada umumnya yang dipimpin oleh pejabat teknis dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Ajis Husba mengemban amanah ini saat ia masih aktif menjabat sebagai Camat Masamba.
Ada dua alasan utama yang melatarbelakangi pengangkatan unik ini:
Misi Strategis Transmigrasi: Masamba saat itu dipersiapkan sebagai pintu masuk utama bagi para transmigran dari Pulau Jawa, Bali, dan Lombok.
Dengan menjabat sebagai Camat sekaligus Kepala Bandara, Ajis Husba memiliki kewenangan penuh untuk mengoordinasikan kedatangan pesawat sekaligus mengatur penempatan para transmigran secara efektif.
Efisiensi dan Kedekatan Wilayah: Dirjen Perhubungan Udara kala itu, Kardono, sempat berseloroh bahwa penunjukan ini adalah bentuk efisiensi agar gaji sang kepala bandara tetap bersumber dari Departemen Dalam Negeri, namun secara serius hal ini dilakukan karena Ajis paling memahami medan dan kondisi sosial masyarakat setempat.
Membangkitkan “Landasan yang Hilang”
Di bawah pengawasan Ajis Husba, bandara yang sebelumnya berupa hutan lebat akibat terbengkalai sejak 1945 itu kembali berdenyut.
Dengan dana rehabilitasi Pelita sebesar Rp23,9 juta, ia menyaksikan transformasi lahan penuh lubang bekas bom menjadi landasan pacu sepanjang 600 meter yang siap menghubungkan Masamba dengan dunia luar.
Simbol Perlawanan Terhadap Isolasi
Bagi masyarakat Masamba tahun 1970-an, Ajis Husba adalah simbol harapan. Sebelum bandara ini beroperasi, perjalanan ke Ujungpandang memakan waktu 12 jam dengan Jeep melalui jalanan yang sulit.
Kepemimpinan Ajis di bandara tersebut menjadi tonggak awal berakhirnya masa isolasi daerah Luwu Utara.(***)
sumber : Boby Setiawan, kompas, perpustakaan nasional











