[Jejak Strategis di Balik Seragam Garuda]
Oleh: [Uwais Alfarizi]
Di balik riuh rendah politik Sulawesi Selatan, sebuah perpindahan haluan sering kali bukan sekadar ganti warna baju.
Bagi Andi Abdullah Rahim, Bupati Luwu Utara, keputusannya mengenakan seragam putih dengan logo kepala garuda bukan sekadar pencarian pelabuhan baru, melainkan sebuah misi menjemput harapan bagi “Bumi Lamaranginang”.
Jumat pagi di Senayan (6/2/2026), suasana ruang kerja Andi Iwan Darmawan Aras (AIA) di Komisi V DPR RI tampak hangat namun produktif.
Di sana, Abdullah Rahim duduk bukan hanya sebagai kader baru Partai Gerindra, tapi sebagai pemimpin daerah yang sedang membawa “titipan” harapan dari rakyatnya di pelosok Seko hingga pesisir Luwu Utara.
Evolusi Seorang Politisi
Perjalanan politik Abdullah Rahim adalah sebuah pencarian panjang. Memulai karier di PKS yang ideologis, sempat bernaung di Gelora yang dinamis, ia kini memantapkan langkah di Gerindra.
Bagi banyak pengamat, ini adalah evolusi dari politik identitas menuju politik pembangunan yang pragmatis namun terukur.
”Kami merasa punya kesamaan visi dengan Bapak Prabowo,” ujarnya dengan nada tenang namun meyakinkan
Di matanya, Asta Cita bukan sekadar jargon kampanye Presiden, melainkan kompas yang bisa mengarahkan Luwu Utara keluar dari tantangan geografis yang pelik.
Melawan Isolasi dengan Jalur Politik
Bagi warga Luwu Utara, urusan politik sering kali terasa jauh, namun urusan jalan rusak dan banjir terasa sangat dekat di depan mata.
Abdullah Rahim memahami betul bahwa mengandalkan APBD kabupaten untuk membuka isolasi wilayah Seko atau membangun tanggul banjir raksasa adalah hal yang hampir mustahil.
Langkah bergabung ke Gerindra adalah “jembatan” politik. Dengan berada di dalam lingkaran partai penguasa, komunikasi antara daerah dan pusat tak lagi harus melalui birokrasi yang berbelit.
”Kita datang menyampaikan sejumlah aspirasi. Perbaikan jalan, tanggul pencegah banjir, hingga program bedah rumah,” ungkapnya.
Di seberang meja, Andi Iwan Aras, sang “Panglima” Gerindra Sulsel yang memegang kunci di Komisi V, memberikan sinyal hijau. Inilah alasan sebenarnya mengapa kursi
Gerindra begitu memikat: akses.
Keselarasan di Pucuk Pimpinan Tak sendirian, sang Wakil Bupati, Jumail Mappaile, yang berlatar belakang birokrat tulen, turut serta dalam gerbong ini.
Dualisme kepemimpinan di Lutra kini melebur dalam satu warna, menjanjikan stabilitas pemerintahan yang jarang ditemui di daerah lain.
Kini, publik Luwu Utara menunggu pembuktian. Apakah “seragam garuda” ini benar-benar akan mempercepat pembangunan tanggul yang dirindukan warga, atau sekadar menjadi taktik politik menuju periode berikutnya?
Satu yang pasti, dari ruang kerja di Senayan itu, Abdullah Rahim telah menegaskan bahwa politik bagi dirinya adalah seni menjemput anggaran pusat demi kesejahteraan rakyat di daerah.(***)











