Oleh: Hasjaya
Dahulu kala, ada fabel klasik tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor keledai. Ke mana pun mereka melangkah, komentar warga selalu membayangi. Naik keledai dianggap menyiksa hewan, jalan kaki dianggap bodoh, salah satu naik dianggap egois.
Singkat cerita, karena terlalu lelah mengikuti “standar” orang lain, mereka berakhir memanggul keledai itu sendiri. Sebuah tindakan konyol yang lahir dari keputusasaan menyenangkan semua orang.
Fragmen kuno ini rupanya menemukan panggungnya kembali di Kota Palopo.
Baru-baru ini, publik kita riuh melihat aksi Wakil Walikota yang turun langsung memungut tumpukan sampah. Sebuah pemandangan yang tak lazim, namun segera memicu
“badai” perspektif yang kontradiktif.
Bagi sebagian orang, ini adalah keteladanan. Seorang pemimpin yang tak segan mengotori tangan untuk urusan yang paling dasar: kebersihan kota. Namun, bagi barisan skeptis, tindakan ini segera diberi label “flexing” atau pencitraan. Mereka bertanya, “Kenapa bukan sistemnya yang diperbaiki? Kenapa harus pejabatnya yang memungut?”
Namun, mari kita berandai-andai sejenak. Jika sang pejabat hanya diam di balik meja yang sejuk, memantau laporan di layar tablet, apakah kritik akan reda? Tentu tidak. Suara-suara sumbang akan segera berganti nada: “Apa kerjanya Wakil Walikota? Cuma diam? Gaji buta?”
Inilah wajah asli politik kita hari ini—sebuah Dilema Keledai.
Di era media sosial, setiap gerak-gerik pejabat adalah konten. Jika bekerja di lapangan, dianggap haus panggung. Jika bekerja di kantor, dianggap tak punya empati. Pejabat publik kini berada di titik di mana mereka tidak mungkin bisa memuaskan semua selera penontonnya.
Pesan moral dari kisah keledai tadi sangatlah terang: Fokus pada pendapat orang hanya akan membuat segalanya kacau. Bagi seorang pemimpin, satu-satunya kompas yang bisa dipegang adalah integritas dan tujuan akhir.
Jika memungut sampah itu diniatkan untuk menggerakkan kesadaran warga—meski dicibir—maka lakukanlah. Karena pada akhirnya, yang akan dinilai sejarah bukanlah seberapa riuh tepuk tangan atau cemoohan penonton, melainkan apakah kota ini menjadi lebih baik atau tidak.
Kritik adalah bumbu, namun prinsip adalah menu utama. Pemimpin yang terlalu sibuk “memanggul keledai” hanya agar tidak ditertawakan, pada akhirnya justru akan kehilangan arah perjalanannya sendiri.(***)











