Home / Uncategorized

Jumat, 4 Oktober 2024 - 08:10 WIB

Dampak Polusi Industri Nikel Morowali

SULTENG, PAMORNEWS – Pembangunan kawasan industri nikel di Indonesia, seperti di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, berdampak serius terhadap kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat sekitar. Demikian antara lain, hasil penelitian Transformasi untuk Keadilan Indonesia (TuK Indonesia) berjudul “Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan akibat Paparan PM10, PM2.5, dan SO2 pada Masyarakat Desa Fatufia, Bahomakmur, dan Labota” yang menggunakan metode analisis risiko kesehatan lingkungan. Di Morowali ini ada kawasan industri nikel besar, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Novilyana Onora, dari TuK Indonesia mengatakan, bangun PLTU captive, jadi penyebab utama sulfur dioksida (SO2) cukup tinggi di udara. Penggunaan batubara dengan suhu cukup tinggi juga menyebabkan peningkatan SO2 di udara. Kondisi ini, berdampak buruk bagi kesehatan warga.

Kiki Sanjaya, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako mengatakan, temuan mereka bersama TuK Indonesia itu terafirmasi dengan dampak yang sudah dirasakan masyarakat sekitar. Berdasarkan analisis risiko, ketiga parameter pencemar (PM10, PM2.5 dan SO2) menyebabkan risiko kepada masyarakat di kawasan industri nikel.

Dengan temuan itu, meminta peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan di kawasan industri nikel Morowali. Perlu juga ada peningkatan diagnosa dini dan edukasi kesehatan terutama pencegahan penyakit dan gangguan pernapasan. Juga perlu ada kolaborasi antara Dinas Kesehatan dan perusahaan dalam pemeriksaan kesehatan rutin pekerja dan masyarakat.

Pembangunan kawasan industri nikel di Indonesia, seperti di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, berdampak serius terhadap kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat sekitar. Demikian hasil penelitian Transformasi untuk Keadilan Indonesia (TuK Indonesia) berjudul “Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan akibat Paparan PM10, PM2.5, dan SO2 pada Masyarakat Desa Fatufia, Bahomakmur, dan Labota” yang menggunakan metode analisis risiko kesehatan lingkungan. Di Morowali ini ada kawasan industri nikel besar, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Temuan studi ini menyebut, rata-rata konsentrasi PM10, PM2.5, dan SO2 di tiga desa yang jadi obyek penelitian sudah melebihi baku mutu penetapan pemerintah, dan ada risiko kesehatan serius bagi masyarakat.

Proyeksi intake polutan menunjukkan rata-rata responden (warga) melewati batas rekomendasi nilai reference concentration (RfC) setelah 10 tahun terpapar yang mengindikasikan risiko kesehatan tinggi.

Temuan itu menegaskan, perlu segera kebijakan pengendalian pencemaran udara di wilayah itu.

Untuk karakter risiko menunjukkan, ada beberapa responden menandakan risiko kesehatan nyata dan tidak bisa terabaikan. Dampak paling umum, katanya, gangguan pernapasan seperti ISPA, asma, bahkan penyakit paru-paru obstruktif kronis.

Kondisi ini, diperparah fasilitas kesehatan lokal seperti Puskesmas belum memadai. Fenomena ini memperlihatkan kesenjangan serius dalam infrastruktur kesehatan di daerah yang terdampak.

Terlebih lagi, monitoring dan evaluasi terhadap emisi polutan aktivitas pertambangan tidak rutin, hanya sewaktu-waktu. Studi ini melihat, perlu ada reformasi pengawasan lingkungan, terutama pemantauan kualitas udara dan sanksi bagi pelanggar.

Novilyana Onora, dari TuK Indonesia mengatakan, soal kualitas udara, sudah sangat mengkhawatirkan. Dalam sulfur dioksida (SO2) yang seharusnya maksimal 150 (µg/m3) di udara, kini sudah 288,497 (µg/m3).

Penggunaan batubara di PLTU captive, katanya, jadi penyebab utama SO2 cukup tinggi di udara. Penggunaan batubara dengan suhu cukup tinggi juga menyebabkan peningkatan SO2 di udara. Kondisi ini, katanya, berdampak buruk bagi kesehatan warga.

Dari hasil uji, pencemaran air juga terjadi di Sungai Fatuvia dan Sungai Bahodopi karena pembuangan sampah organik dan anorganik di badan sungai.

Penelitian juga menemukan laut Morowali tercemar hingga menyebabkan ekosistem biota laut terganggu. Dia bilang, kandungan timbal pada air laut dapat membahayakan ekosistem karena tidak mudah terurai dan toksik.

Temuan itu, katanya, mengafirmasi soal petani budidaya rumput laut dan nelayan makin terpuruk di laut Morowali. Oksigen di laut Morowali, katanya, tak lagi mencukupi untuk menghidupi biota laut. Terlebih lagi, suhu permukaan laut Morowali mengalami peningkatan signifikan.

Dengan temuan ini, katanya, perlu pengendalian sampah berserakan di sekitar Bahodopi, dan pencegahan sumber polusi dari kendaraan bahan bakar minyak dan batubara dengan kandungan sulfur tinggi.

 


Sumber: https://www.mongabay.co.id/2024/10/02/dampak-polusi-di-kawasan-industri-nikel-morowali/

 

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Direksi Pam Tirta Mangkaluku Kota Palopo
PENUH HANGAT, PEMDAKAB MOROWALI JAMU PEMDAKAB KONAWE DALAM JAMUAN MAKAN SIANG BERSAMA

Uncategorized

PENUH HANGAT, PEMDAKAB MOROWALI JAMU PEMDAKAB KONAWE DALAM JAMUAN MAKAN SIANG BERSAMA

Uncategorized

Empat Geng Memanas Berebut Kursi Sekda Palopo, Manuver Senyap Ome Menanti di Garis Akhir

Uncategorized

Kemiskinan Ekstrem: Uluran Tangan Walikota Naili Membawa Harapan di Ponjalae

Uncategorized

Dari Wajo Jejak Asap Rokok Ilegal Mengepul Sampai Luwu Raya (1)

Uncategorized

Warga Puungkoilu Anggap Bupati Iksan Bukan Sekadar Pemimpin, Tapi Bagian dari Keluarga

Uncategorized

Ketua KPU RI, Ketua Bawaslu RI, Ketua Komisi II DPR RI, dan Gubernur Sulsel Pantau Pencoblosan di Beberapa TPS

Uncategorized

Kapolres Morowali hadiri kegiatan Tabligh Akbar, Dzikir dan Doa Bersama di Masjid Nurul Taqwa Bahodopi