Home / Uncategorized

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 14:01 WIB

Diskresi Sang Penguasa

Diskresi Sang Penguasa:

(Titian Tipis Akal Hukum dan Nurani)

esaiss : haidir basir

​Diskresi sang penguasa merupakan konsep fundamental dalam administrasi publik yang seringkali disalahpahami sebagai lisensi untuk melanggar aturan.

Pada hakikatnya, diskresi adalah ruang kebijakan esensial yang diberikan kepada pejabat publik. Ia adalah katup pengaman birokrasi, memungkinkan pemerintah untuk bertindak dalam situasi yang tidak diatur secara tegas oleh undang-undang, demi menjaga kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan menjawab kebutuhan rakyat secara cepat.

Diskresi, dalam bentuk idealnya, adalah alat kreatif yang mengisi kekosongan hukum dan mempercepat pelayanan.

​Namun, sejarah dan praktik menunjukkan bahwa diskresi adalah pedang bermata dua. Meskipun ia dirancang sebagai instrumen kemanfaatan publik, di tangan penguasa yang minim integritas, diskresi kerap menjelma menjadi alat yang mengerikan—sebuah justifikasi kekuasaan yang melampaui batas hukum dan moral.

Baca juga  Buronan Kasus Penggelapan, Muraker Kristian, Berhasil Diamankan di Bandara SAMS Sepinggan

Di sinilah letak dilema terbesarnya: bagaimana memisahkan tindakan yang berani dan benar dari tindakan yang koruptif dan tirani.

​Secara ideal, setiap keputusan yang diambil melalui diskresi haruslah berlandaskan pada tiga pilar utama: kepatutan, keadilan, dan kemanfaatan publik.

Keputusan tersebut harus mencerminkan tanggung jawab moral yang tinggi, bukan sekadar kalkulasi kepentingan pribadi atau politik jangka pendek. Ketika diskresi digunakan dengan niat luhur, ia adalah manifestasi dari kepemimpinan yang progresif—pemimpin melihat aturan sebagai panduan, bukan jeruji yang membatasi tindakan baik.

​Sebaliknya, ketika diskresi dialihkan tujuannya—digunakan untuk memperkaya diri sendiri atau kelompok (nepotisme), atau untuk membenarkan tindakan otoriter—ia berubah menjadi bentuk halus dari penyalahgunaan wewenang. Legitimasi hukum yang melekat pada diskresi justru menjadi kamuflase yang sempurna.

Pelanggaran etika terbungkus rapi dalam jargon prosedural, menjadikannya lebih berbahaya daripada pelanggaran hukum yang terang-terangan, sebab ia merusak kepercayaan publik secara sistematis.

Baca juga  Reses di Kecamatan Bara, Anggota DPRD Kota Palopo, Aris Munandar SH, menyoroti Soal Ini

​Oleh karena itu, diskresi sang penguasa menuntut sebuah keseimbangan yang amat tipis antara akal hukum dan nurani kepemimpinan. Akal hukum menyediakan batasan formal dan prosedur yang wajib dipenuhi. Namun, nurani kepemimpinan adalah filter etika yang menentukan intensi dan dampak moral dari sebuah tindakan.

​Di tangan pemimpin berintegritas, diskresi menjadi wujud keberanian moral untuk bertindak benar di tengah keterbatasan aturan.

Tindakan diskresi tersebut adalah perwujudan kearifan yang mengutamakan rakyat di atas formalitas. Namun, di tangan penguasa tanpa etika, diskresi hanyalah sebuah kedok, menjelma menjadi tirani yang bersembunyi di balik legitimasi hukum. Pada akhirnya, kualitas moral seorang pemimpinlah yang menentukan apakah diskresi akan menjadi berkah bagi publik atau bencana yang merusak sendi-sendi keadilan.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Malangke Juara Umum MTQ XIV Luwu Utara, Unggul Tipis dari Baebunta

Uncategorized

Dukung Eksistensi Olahraga Bela Diri, Kadisporapar Lutra Sematkan Tanda Peserta UKT Tapak Suci

Uncategorized

Wakil Bupati Morowali Iriane, Buka Sosialisasi Pembentukan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak

Uncategorized

Kehormatan untuk Sang Menteri: Datu Luwu Anugerahkan Gelar Adat untuk Prof. Nasaruddin Umar

Uncategorized

Beasiswa Tahap III Morowali Cair, 718 Mahasiswa Sudah Terima Dana

Uncategorized

Bernostalgia di Luwu Utara, Hamzah Jalante Ajak Masyarakat Nikmati Khasiat Air Panas Pincara

Uncategorized

Kritik Kunjungan DPRD ke Bappenas, Afrianto Nurdin: Jangan Cuma Bawa ‘Proposal’ Aspirasi, Tana Luwu Itu Episentrum!

Uncategorized

Ancaman Pembangunan Daerah: Palopo Mendesak Pusat Tinjau Ulang Pemangkasan TKD