Home / Uncategorized

Jumat, 20 Februari 2026 - 06:52 WIB

Kampung Langsat: Jejak yang Hilang di Bawah Kubah Masjid Agung Palopo

JIKA Anda berdiri di pelataran megah Masjid Agung Luwu Palopo hari ini, sulit membayangkan bahwa di bawah ubin marmer dan taman yang asri itu, pernah berdiri sebuah pemukiman yang amat fenomenal bernama Kampung Langsat.

Kini, nama itu praktis hilang dari peta administrasi kota, menyisakan memori bagi mereka yang sempat menghirup debu jalanannya di masa lalu.

​Saksi Bisu Transmigrasi Kolonial

​Dahulu, Kampung Langsat bukan sekadar pemukiman biasa. Menurut catatan sejarah lisan warga Palopo, kawasan ini merupakan titik penampungan pertama bagi para transmigran asal Pulau Jawa yang didatangkan pada masa kolonial Belanda.

​Nama “Langsat” sendiri konon berasal dari rimbunnya pohon langsat yang memenuhi kawasan tersebut sebelum menjadi pemukiman padat.

Kota Palopo memang sejak lama dikenal sebagai sentra buah-buahan, dan Kampung Langsat adalah salah satu buktinya.

​Sisi Lain: Riwayat “Zona Merah”

​Namun, Kampung Langsat juga menyimpan cerita yang sering dibicarakan secara bisik-bisik. Di masa jayanya, kawasan ini dikenal sebagai pusat hiburan malam ( mungkin juga hiburan siang)

Baca juga  Nakhoda Baru di Mapolda Kaltim: Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo Resmi Jabat Wakapolda

Bagi pria “hidung belang” di masa itu, Kampung Langsat adalah titik pelesiran yang tersohor di seantero Luwu.

​”Dulu kalau sebut Kampung Langsat, orang langsung tahu itu tempat hiburan. Ada semacam lokalisasi di sana sebelum akhirnya ditutup dan direlokasi,” kenang seorang warga senior yang menghabiskan masa kecilnya di pusat kota Palopo.

​Transformasi Menuju Balandai

​Seiring perkembangan kota dan kebutuhan akan pusat peribadatan yang representatif bagi masyarakat Luwu, pemerintah ( ada yang mmenyebut masa Bupati Luwu : Samad Suaeb) kemudian mengambil langkah besar.

Warga Kampung Langsat direlokasi ke kawasan Balandai, yang kini lebih dikenal sebagai Jalan Cengkeh.

​Relokasi ini terbukti berhasil.

Warga yang dulu menempati Kampung Langsat kini telah menetap secara mapan di Balandai, menjadikannya salah satu kawasan pemukiman dan pendidikan yang paling berkembang di Palopo saat ini.

Baca juga  Pasar Tedong Bolu:  Jantung Budaya Toraja, Tempat Kerbau Bernilai Miliaran Rupiah

​Hilang Berganti Cahaya

​Pasca-relokasi, tanah di Kampung Langsat tak lagi berpenghuni.

Proyek pembangunan raksasa dimulai: Masjid Agung Luwu Palopo. Sebuah simbol kesucian dan kebanggaan masyarakat Luwu didirikan tepat di atas tanah yang dulunya memiliki riwayat kelam.

​Kini, riuh rendah suara musik dan aktivitas “dunia malam” di Kampung Langsat telah digantikan oleh gema azan yang merdu. Pasar Subuh yang dulu bersinggungan dengan wilayah ini pun telah berpindah-pindah, mulai dari Jalan Andi Jemma hingga ke Buntu Torpedo.

​Kampung Langsat mungkin telah hilang dari obrolan harian generasi Z di Palopo. Namun bagi sejarah, ia adalah bukti nyata bagaimana sebuah kota mampu bertransformasi—mengganti lembaran hitam dengan cahaya spiritual yang megah.

​Catatan Penulis: Kisah ini adalah pengingat bahwa setiap sudut kota punya cerita. Kampung Langsat boleh saja tinggal nama, namun ia adalah bagian tak terpisahkan dari fondasi identitas Palopo hari ini.(***)

 

Share :

Baca Juga

Usai Rakernas di Jakarta, Srikandi Palopo "Serbu" Bandung, Lembang Jadi Sasaran Wisata

Uncategorized

Usai Rakernas di Jakarta, Srikandi Palopo “Serbu” Bandung, Lembang Jadi Sasaran Wisata

Uncategorized

ASN Pemkot Palopo Bisa Kerja dari Rumah Jelang Nyepi dan Usai Lebaran 2026, Ini Jadwalnya

Uncategorized

Selamat Hari Lahir Pancasila

Uncategorized

Selamat & Sukses Atas Pelantikan Naili dan Akhmad Syarifuddin sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palopo

Uncategorized

Dugaan Skandal Rokok Ilegal di Sulsel: Jaringan Pengusaha Besar dan Oknum Bea Cukai Terendus

Uncategorized

Kinerja Waris Halid Terukur Kepeduliannya dengan Persoalan di Luwu Raya

Uncategorized

PEMKAB MOROWALI SOSIALISASIKAN WHISTLE BLOWING SYSTEM UNTUK PERKUAT PENGAWASAN INTERNAL  

Uncategorized

Senator Waris Halid Serius Perjuangkan Petani Barru yang Tiap Tahun Gagal Panen Akibat Banjir